Ramadhan Yang Dirindu

Image

Bulan memanggilku dalam rengkuhnya yang menjelma, menyuruhku untuk bercermin pada mata yang berkaca. Aku tahu karena langkahku bersandar pada waktu.
Menulis cerita ketika senja menyatu dalam tangis gelap, merindui karunia, erat dalam pelukan hati yang bersujud pada zat yang satu.
Mengenangku dalam teriakan jagad raya yang merindu. Dan kali ini mereka yang percaya akan menyambutku.
Ramadhan yang mulia, aku rindu mereka pun rindu. menunggunya dalam decak putaran detik berdzikir mengagungkan Dia yang telah menganugrahkan ramadhan pada semesta yang dijerat pilu.

Ramadhan, dunia tersenyum ketika melapalkan namamu. Seperti senyum ibu ketika ayah mengukir nama itu dalam gegap gempita kelahiranku.
Ramadhan, detikmu mengganjar pahala menebar pekerti bagi setiap hamba yang mendambamu.
Seperti sabda junjungan yang memberi kabar gembira untuk seluruh alam yang merindu.
Ramadhan telah datang kepadamu, bulan yang diberkahi, didalamnya Allah mewajibkan puasa kepadamu. Bulan ketika pintu Surga dibuka dan pintu neraka tertutup dan para setan lemah terbelenggu.
Menangis mengharap kebaikannya adalah hal terindah bagi mereka yang ingin segara bertemu.
Dengannya, yang didalamnya Allah menghadiahkan malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. beruntunglah jika kita semua tahu.

Ramadhan telah datang kepadamu, bulan yang setiap saatnya diliputi keberkahan dengan curahan rahmatnya yang tak terputus karena tidak mengenal jalan buntu.
Bulan ketika Allah menghapus dosa-dosa dan mengabulkan setiap doa, lalu Allah membanggakanmu kepada para malaikatnya karena melihatmu berlomba-lomba untuk mendapat berkah itu.
Maka tunjukanlah hal-hal yang baik dari dirimu.
Karena orang yang sengsara ialah orang yang tidak mendapat rahmat Allah dibulan itu.

Ramadhan yang dirindu, seperti rindu ayah dan ibu kepadaku.
Seperti rindu nenek dan adik-adiku kepadaku.

Ramadhan tetap indah untuku, meski tanpa ayah dan ibu, tanpa mereka yang selalu kurindu.
Meskipun tidak seperti tahun lalu, ketika disetiap malamku suara bidadari selalu membangunkanku. Menyuruhku untuk bersujud mengagungkan penciptaku meski hanya dua bilangan waktu.
Terima kasih ibu, terima kasih ayah, kini aku mengerti kenapa kalian memberikan nama indah itu. Aku tak akan bertanya lagi dalam resahku.
Karena Ramadhan adalah namaku.

Cairo, 14/07/012

 

Advertisements