Ibu, Rindu Ini Kembali Menggegap Gempita

Cintaku padamu seperti butiran pasir kuning yang terbentang ditepian laut merah. Tumpah ruah dalam diafragma jiwa, menebar syahdu diselasar hati yang merindu. Aku masih menyimpan bayangmu diselaksa sanubari, tertulis dalam denyut nadiku nasihat indah yang terlahir dari cinta para pendamba surga.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).Image

Ibu, malam ini rindu itu begitu dahsyat merangkuliku. Resah itu semakin gencar meneriakan keluhku yang tak bisa memandang wajah ikhlasmu. Meski berulang kali aku mencoba untuk mendefinisikan setiap gerak jiwaku yang tak tentu, aku selalu kalah untuk menyanggah bahwa detik ini aku dalam rinduku yang menggegap gempita. Iya, rindu yang membumbung tinggi menyusuri setiap jarak yang dulu pernah kulalui dengan getir hatiku. Karena berpisah darimu benar-benar menyisakan rindu yang tiada terperi.

Meski Hasan Al-Bashri pernah berkata; jika kepergianku meninggalkanmu memberikan pahala untukmu, karena keikhlasanmu melepaskanku, membiarkanku menggapai segala citaku yang perlahan kutapaki satu persatu. Tapi tetap, aku tak bisa mengelak jika saat ini aku ingin sekali melihatmu, memelukmu, mencium tanganmu dan bersimpuh di kakimu. Aku tahu dibalik senyummu kau memendam air mata yang tak ingin kau perlihatkan padaku. Kau hanya menunjukan wajah teduhmu padaku, seprti inilah ketika dulu kau melepasku pergi dari sisimu. Wajah indah itu apakah masih seperti senja yang berlapak benang emas?

Ibu, sedang apa engkau saat ini? Apakah tidurmu masih larut dan bangunmu selalu lebih awal? Demi mengejar sesuatu yang ingin engkau persembahkan untukku. Sudah ibu, aku cukup bahagia ketika engkau menanyakan keadaanku, sudah makankah aku? Sehatkah aku? Sudahkah aku mememuhi kewajiban dan sunahku? Pertanyaan yang selalu memberikan titik embun ditepi kedua mataku. Karena seharusnya saat ini aku sudah berada disampingmu meredakan setiap lelahmu.

Ibu, aku yakin engkau tidak akan membiarkanku berpaling dari jalanku, engkau akan menyuruhku agar tetap maju dengan mimpiku. Menggenggam segala azzam dengan istiqomah yang kuat yang dulu pernah kau tautkan dalam petuahmu. Tapi akhir-akhir ini aku semakin cemas, khawatir jika aku tidak bisa mempersembahkan yang terindah untukmu. Takut jika ternyata kepergianku hanya menyia-nyiakan perjuangan kerasmu, dan menyia-nyiakan air matamu, lalu kau akan terluka karena ternyata aku tak bisa menjaga rindumu.

Tapi perjalananku mengajariku tentang arti dirimu. Ketiadaanmu dihari-hariku mengantarkanku pada cinta yang sebenarnya. Seperti yang di sabdakan oleh Rasulallah ketika ada seseorang yang datang kepadanya lalu ia bertanya “wahai Rasulallah, siapa manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya? Rasulallah menjawab, “ibumu”. kemudian orang itu pun bertanya lagi, kemudian siapa? Rasulallahpun menjawab “ibumu”. Orang itu bertanya lagi “kemudian siapa?” Rasulallahpun menjawab “ibumu” orang itu bertanya lagi “kemudian siapa” lalu Rasulallah menjawab “ayahmu” (Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya – hadis no: 5971). Ada sedikit sesal yang terlintas, ketika mentadaburi hurup demi hurup hadits Rasul yang sangat agung itu. Kenapa tidak dari dulu ketika aku masih ada didekatmu aku membaktikan segenap diriku? Ah.. Penyesalan itu memang selalu terakhir datangnya.

Ibu, bagai manapun jauhnya aku, engkau selalu paham keadaanku. Ketika musim dingin engkau selalu mengingatkanku untuk selalu memakai jaket tebal, dengan merasa sedikit menyesal engkau selalu berkata “kenapa dulu ibu hanya menyuruhmu membawa dua jaket, dan itupun hanya jaket biasa, ibu minta maaf nak, karena ibu tidak tahu jika musim dingin disana ternyata tidak seperti di Indonesia”. Ketika musim panas, engkau selalu mengingatkanku agar aku selalu memakai topi ketika pergi kekampus, selalu mengingatkan ku untuk selalu banyak minum. Padahal baru satu kali aku mengeluhkan dehidrasi padamu. Bahkan disetiap bulan-bulan tertentu engkau selalu menelponku hanya untuk memastikan bahwa aku baik-bauk saja. Karena ibu tahu, bahwa dibulan itu aku selalu terserang demam. Ah… ibu, entah bagaimana aku harus membalas setiap kecemasanmu, setiap kekhawatiranmu. Disini aku hanya mampu berdo’a agar ibu selalu diberikan diberikan kemudahan, kesehatan dan perlindungan, dan selalu dijaga oleh Allah, seperti kata-kata penutupku ketika aku akan mengkhiri teleponku. Aku selalu mewanti-wanti ibu untuk selalu menjaga kesehatan. Tapi ibu selalu membalikan kata-kataku dan selalu bilang “Insya Allah, demi kamu ibu akan selalu sehat” ah… kata-kata ini yang selalu membuat mataku berkaca-kaca.

Ibu, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Pasti sudah banyak perubahan dalam diri ibu, wajah indah itu mungkin sekarang sudah semakin dimakan usia. bahkan mungkin gurat tua diwajahmu tidak bisa ditutupi lagi. Tapi yang aku rasakan, cinta dan sayang ibu tidak pernah berubah, ibu selalu menganggapku sebagai anak yang masih bersekolah disekolah dasar. Cinta dan sayang ibu selalu meluap-luap, dari tutur bicaramu dari sms mu, aku bisa merasakan bahwa ibu pun sangat merindukanku.

Ibu, ditanah para anbiya ini, dinegeri yang berdiri beribu menara, aku mengirimkan doa cintaku untukmu, dengan rinduku yang tiada bertepi, melangit menutupi cakrawala. Semoga keberkahan dan kebaikan selalu menyertai ibu. do’a malam mu selalu kuharapkan. Karena do’a ibu adalah adalah do’a dari golongan pertama yang mustajab yang tidak diragukan lagi. Seperti yang disabdakan oleh Rasul kita “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan)

Ibu, rindu ini akan selalu menggegap gempita.
(Kairo, 28/10/2012)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s