Diari Rama “Islam Menghapus Segala Perbedaan”

Image

Renungan yang terbesit acap kali memperhatikan setiap jama’ah di masjid yang ada di Kairo adalah bahwa Islam memang benar-benar agama rahmatan lil ‘alamin. Sepertinya orang-orang yang selama ini mengecap agama Islam adalah agama teroris penuh dengan kekerasan sekali-kali harus berkunjung ke Kairo, melihat dengan mata dan hati yang terbuka bagai mana sebenarnya Islam itu. Baru setelah itu boleh memberikan kesimpulan.

Shalat dzuhur kali ini pun pemandangan itu selalu sama, masjid yang penuh dengan berbagai macam orang dari belahan dunia, dengan bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bentuk rambut yang berbeda semua itu tidak mengurangi arti persaudaraan dan ukhwah yang ada didalam Islam. Iya, dalam Islam semua kedudukan manusia sama tidak peduli dari mana dia berasal, dari golongan apa dia, dari suku apa dia, semua sekat itu melebur ketika sudah berada didalam naungan Islam, yang membedakan hanyalah iman dan takwa yang ada dibalik hati manusia itu sendiri. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kalian. (QS, Al-hujarat: 13)

Kairo adalah kota terbesar di Mesir dengan kemajemukan penduduknya yang sangat beragam. Hampir manusia diseluruh dunia ada di kota ini, mayoritas para pendatang di Kairo adalah muslim wajar bila mereka bisa langsung menyatu dengan penduduk asli yang mayoritas beraga Islam. Dari segi histori Kairo adalah kota yang tidak bisa dilepaskan dari berbagai peradaban, mulai dari peradaban Fir’aun, Romawi, hingga yang terakhir adalah peradaban Islam. Sebelum Islam dibawa masuk ke Mesir oleh salah seorang sahabat Nabi yaitu ‘Amru bin Ash, pada masa jahiliyah kota Kairo sudah terkenal dengan peradabannya, hal ini menarik keinginan ‘Amru bin Ash untuk mengunjungi Mesir. Hingga pada masa penyebaran Islam di masa kepemimpina khalifah Umar bin Khattab, ‘Amru bin Ash mendapat perintah dari Umar bin Khattab untuk membuka Mesir dan menyebarkan Islam di sana. Mendapatkan mandat besar itu, Amru bin Ash yang sudah menjelajahi Mesir sebelumnya, segera menyetujui perintah Umar bin Khattab.  

Berbagai Dinasti Islam pernah tumbuh dan berkembang di Mesir, di antaranya adalah Dinasti Fatimiyah, Dinasti Ayubiyah dan Dinasti Mamalik, semua dinasti tersebut berperan besar dalam peradaban Islam dan perkembangannya. Sisa-sisa peradaban itu masih dirasakan sampai saat ini, di antaranya adalah universitas Al-Azhar, universitas Islam terbesar dan tertua yang berdiri pada masa Dinasti Fatimiyah. Universitas Al-Azhar berawal dari sebuah masjid yang didirikan oleh Jauhar Al Shaqali, seorang panglima perang pada Dinasti Fathimiyah, pada tanggal 24 Jumadil Ula 359 H (970 M). Seiring berjalannya waktu masjid Al-Azhar semakin ramai dan memiliki peran ganda yaitu sebagai masjid pusat kegiatan Islam dan sebagai lembaga pendidikan.

Ups… Lamunan ku buyar ketika salah seorang jama’ah menyenggol kakiku, pemuda itu lalu tersenyum meminta maaf sambil memegang pundaku. Ah… pelajran itu, pelajran  dari mata kuliah yang paling kusukai “Sejarah Peradaban dan Sastra Arab” aku masih ingat ketika duktur Abdurahman dosen universitas AL-Azhar Zagazig fakultas lughah Arabaiyah yang sudah sangat tua menerangkan tentang perkembangan sastra Arab pada masa Bani Umayyah kemudian beliau menyinggung tentang permulaan Islam masuk ke Mesir yang dibawa oleh Amru bin Ash. Alhamdulillah aku masih ingat beberapa pelajaran yang dulu pernah disampaikan oleh beliau.

Islam yang sudah menjadi aqidah dan undang-undang hidup para pemeluknya telah menunjukan bagai mana  sesungguhnya ukhwah itu, Islam yang mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan, mencintai sesama tanpa pandang bulu telah memperlihatkan bagai mana sesungguhnya Islam itu, damai dan penuh dengan keindahan. Ini adalah gambaran ketika aku memperhatikan jama’ah setelah selesai shalat di masjid Ar-Rasul, Hay Asyir Kairo. Pemandangan lebih indah lagi aku temukan di masjid Al-Azhar, semua manusia dalam masjid itu yang berbeda latar belakangnya menyatu dalam ikatan yang sama, yaitu ikatan iman dan Islam. Padahal mereka datang dari berbagai negara yang berbeda, dengan latar belakang yang berbeda pula. Mulai dari negara-negara benua Asia, Indonesia, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand, Filipina, Afghanistan, Suriah, Turki, Yaman, Bangladesh, India, Pakistan. Lalu masuk ke negara bagian Eropa seperti Rusia dan Prancis, semuanya menyatu dalam Islam. Tapi mengapa  mereka masih mengatkan jika Islam itu agama teroris?

Satu hal lagi yang menurutku sangat mengesankan tentang prinsip ukhwah dalam Islam adalah ketika semua orang dari negara-negara yang disebutkan diatas berbicara dengan menggunakan bahasa pemersatu umat Islam, yaitu bahasa Arab. Sangat indah sekali ketika dalam satu ruangan kita berdiskusi dan berbicara dengan kawan yang berbeda negara menggunakan bahasa Arab. Baru terasa akan benarnya ucapan pak kiyai ketika di Manahijussadat dulu (Pondok Pesantrenku) beliau pernah mengatakan bahwa “Al-lughatul ‘Arabiyyah hia lughatul jannah” bahasa Arab adalah bahasa ahli surga. Mendengar kata-kata surga aku jadi terbayang bagai mana nanti ketika dunia diluluh lantahkan lalu orang-orang yang beriman ditempatkan ditempat yang maha indah dan para pendurhaka ditempatkan ditempat yang penuh siksa. Iya, orang-orang yang beriman akan ditempatkan didalam surga, sebuah tempat yang tidak bisa digambarkan oleh pikiran manusia. Dan penghuninya berbicara dengan bahasa Arab.

Jika ingat kata-kata diatas bagiku Al-Azhar sudah seperti surga, ketika mahasiswa asal Turki, China, Malaysia, Mesir, Indonesia berbicara dan saling menyapa dengan bahasa Arab, bagiku Allah telah memberikan nikmat yang luar biasa. Nikmat, bisa mengerti bahasa Arab, dan mempraktekannya dengan orang-orang yang cinta dengan bahasa Arab. Mungkin pemandangan dan keadaan ini hanya bisa dirasakan di Al-Azhar Kairo, karena semua muslim dari berbagai negara berkumpul di sini. Berbeda dengan suasana di Zagazig, walaupun yang aku rasakan hubungan antara mahasiswa Indonesia, Malaysia, Thailand, Juzur Qamar dan negara lainnya bisa dikatakan lebih dekat, mungkin hanya dengan orang Mesir dan Juzur Qomar saja mahasiswa Indonesia bisa mempraktekan bahasa Arabnya. Tapi di Kairo, semua orang yang berada di Al-Azhar semuanya berbicara dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Turki, kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Prancis kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Rusia kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, berdiskusi didalam kelaspun dengan bahasa Arab. Begitu juga sebaliknya ketika mereka menyapa, mereka pun menggunakan bahasa Arab.
Ketika dalam kebersamaan dengan berbagai macam orang yang berbeda latar belakang, keindahan ukhwah islamiyah itu begitu terasa, saling menghormati dan saling menghargai, saling mengasihi dan saling berbagi. Ini adalah salah satu ajaran kehidupan dalam Islam, sangat salah jika orang-orang masih menganggap Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan yang disebarkan dengan perang, apalagi mengaitkan Islam dengan agama teroris, sangat salah. Ini baru satu gambaran yang aku dapatkan di Mesir. Pemandangan yang lebih indah lagi pernah aku dapatkan di Makkah, ketika berjuta-juta manusia dari berbagai negara dikumpulkan di masjidil haram, menyatu dalam naungan Islam tidak ada perbedaan dan sekat di antara mereka. Shubhanallah… hanya kata-kata ini yang bisa di ucapkan. Ini baru di negara Arab, coba kita lihat muslim yang ada di Amerika, muslim yang ada di Jerman, muslim yang ada di Prancis dan negara Eropa lainnya, mereka bisa hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya yang non muslim dengan rukun dan damai.

Prinsip ukhwah islamiyah ini menurutku sangat pas jika diterapkan di Indonesia dengan kemajemukan penduduknya. Suku Sunda, Jawa, Betawi, Batak, dan yang lainnya bisa damai berdampingan, mengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi itu baru bisa terjadi jika muslim Indonesia kembali kepada pondasi agamanya yaitu Alqur’an dan sunnah.

Kairo, 30 Desember 2012

Advertisements

Kampung Ku… {1}

Image

Blok Cantilan, sebuah tempat yang hijau bagian dari desa Karang Mangu yang memanjang dari timur kebarat dan keselatan. Itulah kampungku tempat aku tumbuh dan belajar memaknai hidup semenjak aku kecil sampai aku dewasa dan meninggalkan kampung itu hingga bertahun-tahun. Cantilan, adalah sebuah perkampungan yang masih sangat asri, sawah-sawahnya yang masih terbentang luas, hutan-hutan kecil yang masih dihuni oleh berbagai jenis burung dan hewan-hewan lainnya yang masih menyatu dengan alam.

Kampungku juga dialiri oleh sebuah sungai yang bernama sungai Cimanis, di sungai itulah dulu aku belajar berenang. Sampai salah seorang temanku terheran-heran ketika melihatku sedikit mahir dalam  berenang. Waktu itu ketika jadwal mengajar kosong kawanku mengajakku berenang di kolam renang hotel Marina Rangkas Bitung, ia sedikit kaget dan tidak percaya jika aku sudah pandai berenang. Walaupun malamnya aku tidak bisa tidur karena dada dan bagian tulang igaku terasa sakit, karena pas berenang siang tadi aku tidak melakukan pemanasan.

Sungai Cimanis yang aku tahu adalah sungai yang kaya akan jenis ikan, waktu kecil dulu aku dan beberapa temanku sering sekali mencari ikan disana ketika airnya sedang surut, walaupun pulangnya nanti aku harus bermain petak umpet dengan almarhumah nenekku tercinta, nenek akan sangat marah jika ia tahu kalau aku baru saja bermain di sungai. Alhamdulillah ada bibi sang pembela, bibi yang selalu melindungiku ketika nenek akan memberikan hukuman padaku. Ah… masa-masa kecil yang indah meskipun penuh dengan peraturan ketat dari nenekku yang paling ku sayang.

Blok Cantilan sebelum aku meninggalkannya adalah sebuah perkampungan yang paling indah menurutku, mudah-mudahan ketika aku pulang nanti perkampungan itu masih seperti dulu, walaupun aku tidak bisa mengelak perubahan itu pasti ada. Kawasan yang hijau penuh dengan hutan-hutan kecil dan sawah-sawah yang terbentang luas, semoga masih bisa aku menikmati pemandangan itu. Penduduk Cantilan rata-rata seorang petani dan buruh tani, pedagang, wiraswasta dan ada juga pegawai negri. Sebagian juga ada yang memilih berhijrah ke Jakarta untuk berniaga di sana, seperti sebagian besar saudara-saudara ku yang sudah bertahun-tahun bekerja di Jakarta.

Dulu setiap pagi biasanya gunung cermai akan menjadi pemandangan yang paling indah, sambil berjalan pergi kesekolah beramai-ramai dengan sahabat-sahabat yang lain memenuhi ruas jalan yang diapit oleh sawah-sawah yang menghijau. Masa-masa delman masih menjadi alat transfortasi favorit masa-masa sekolah madrasah dulu, aku baru sadar jika kampung ku menjadi saksi sejarah tentang perjalanan anak-anaknya yang telah tumbuh dewasa dan siap memimpin dunia.

Rasa rindu yang begitu dalam adalah awal keinginan untuk menuliskan beberapa kalimat tentang kampung halamanku yang sudah sangat lama telah kutinggalkan, ditambah setelah membaca artikel salah satu anaknya yang begitu peduli dengan kampung halamannya. Tentang burung belekok yang tidak pernah terbang lagi di langit desa Karang Mangu, tentang sebagian penduduknya yang sudah tidak peduli lagi dengan kelestarian lingkungannya, rasanya sangat miris melihat kampung yang begitu asri harus kehilangan keasriannya karena ulah penduduknya sendiri.

Lalu imbasnya bukan kepada orang lain, tapi penduduk kampung itu sendiri yang akan merasakannya, ketika burung-burung yang biasa membantu para petani harus punah karena diburu oleh sebagian orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalau sawah-sawahpun akhirnya terserang oleh hama-hama yang tidak ada penangkalnya lagi, hama bekicot, cacing tanah yang tidak bersahabat lagi, semuanya merugikan para petani dikarenakan burung-burung yang biasa memangsa mereka sudah hilang dan punah. Dan yang rugi adalah para petani yang akhirnya harus menahan getir karena gagal panen berkali-kali.

“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanan dimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)

Ayat diatas selain berisi anjuran untuk beribadah kepada Allah, namun mengabarkan juga kepada manusia, bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia. Jangan sampai kerena keserakahan sebagian manusianya, malah menimbulkan kemadharatan hingga menyengsarakan saudara-saudaranya yang lain. Tanah longsor, banjir, kekeringan dan gagal panen adalah buah dari ulah manusia yang merugikan manusia sendiri.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS, Al-Qasas: 77)

Rindu itu selalu ada untuk kampung halamanku, seperti rinduku pada keramahan para penduduknya, rindu pada keramahan alamnya.

Cairo, 29 Desember 2012

Permen Dari Ibu

Image

“Haga lillah ya rab”… Perkataan itu keluar dari mulut seorang ibu berpakaian serba hitam dan bercadar, sambil menggendong bayinya yang masih berusia tiga bulanan perempuan bercadar itu menghampiri satu persatu penumpang yang berada di bis 65 kuning. Malam itu aku baru saja pulang dari salah seorang seniorku yang tinggal di kawasan Rab’ah, Kairo. Hawa dingin yang begitu melekat tidak menyurutkan tekad sang ibu untuk menyodorkan peremen kepada para penumpang yang tidak seberapa banyaknya. Memang, semenjak bis idaman seluruh mahasiswa Indonesia ini ku tumpangi dari Rab’ah hanya ada segelintir orang yang duduk disetiap kursinya, aku pun dengan leluasa bisa memilih tempat duduk dimana saja yang aku suka.

Permen yang berwarna warni itu sengaja diberikan kepada para penumpang oleh ibu itu,dengan harapan para penumpang bisa membantunya dengan menyedekahkan sedikit uangnya, sekedar untuk menyambung hidupnya, mungkin juga untuk membeli susu anaknya. Tapi para penumpang memilih diam tak menghiraukan sambil menyerahkan permen yang tadi diberikan oleh ibu bercadar itu. Pandanganku kualihkan lagi kejendela bis yang melaju perlahan, aku baru ingat jika kemarin lusa adalah hari ibu, batinku kini mulai dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan “Siapa sebenarnya ibu itu? Apakah suaminya sedang sakit hingga ia harus mencari nafkah sendiri? Atau mungkin suaminya meninggal ketika ikut berdemonstrasi? Pertanyaan-pertanyaan usil itu terus berputar-putar dalam benakku.

Aku lihat ibu itu menuju kearahku, aku tahu pasti ibu itu ingin memberikan permen yang tadi juga diberikan kepada para penumpang yang ada didepan dan belakangku. Sambil memegang kursi di depannya ibu itu memberikan 4 buah permen, 3 berwarna kuning dan 1 lagi berwarna orange. Saking lamanya permen itu digenggamnya, 4 buah permen itu terasa hangat diatas telapak tangan kananku. Namun, baru saja aku merogoh kantong jaketku ibu itu menuju kearah penumpang yang lain yang ada didepanku. Uang receh yang berjumlah 5 pon itu pun tak sempat aku berikan pada ibu itu. Tapi aku yakin ibu itu akan kembali kebelakang dan mengambil permen yang tadi diberikannya padaku, tapi aku tersentak kaget ibu itu tidak kembali kebelakang, malah ia turun ketika bis berwarna hijau itu sudah sampai di kawasan Game’.

Ah.. Ibu itu membuat aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, seharusnya uang koin yang berjumlah 5 pon itu bisa aku berikan padanya, tapi malah ibu itu yang memberikan aku 4 buah permen padaku. Rasanya aku malu pada diriku sendiri. Ketika ibu itu turun dari bis, aku hanya bisa berteriak dalam hati memanggilnya agar ia kembali lagi, tapi ia sudah turun dan tak mungkin naik kedalam bis lagi dan mengambil kembali 4 buah permen yang tadi ia berikan padaku. Jika aku tidak bisa memberikan uang 5 pon ku untuk ibu itu, mungkin do’a yang aku panjatkan dalam hati bisa sampai untuk ibu itu.

Pandanganku ku alihkan kembali ke jendela, hawa dingin kubiarkan membelai wajahku, entah kenapa tiba-tiba anganku tertuju pada seorang ibu tua yang biasa duduk disamping kedai ‘ammu Hani, ia juga seorang peminta-minta yang biasa aku lihat di sana. Lalu bayangan almarhumah nenek berkelabat dalam anganku dengan senyumnya yang ia berikan untuku, wajah ibuku yang sudah lama tidak pernah kulihat langsung juga hadir memecahkan gelembung rinduku yang perlahan terbang terbawa angin malam itu.

Tiba-tiba ada satu sosok lagi yang hadir menenangkan hati, ah.. Rupa itu kenapa ia selalu ada di saat-saat seperti ini? Sedang apa ia di sana? Apakah ia sedang berdiri disamping jendela flatnya sambil menatap salju yang turun membentuk sebuah lukisan yang bernama rindu? “Astaghfirullah” hanya kalimat ini yang mampu membawaku kembali pada duniaku.

Kairo, 25 Desember 2012

*Haga Lillah = Bersedekahlah karena Allah (Arti leterlek yang biasa diucapkan oleh para peminta-minta di Mesir)

*’Ammu = Paman

≈☀╠[“ Rahmat-Nya Yang Luas Terbentang ”]╣☀≈

Image

Roda waktu terus berputar mengukir sejarah melukis warna warni hidup yang akan terus dikenang sepanjang masa. Tak ada yang bisa mengelak dari keputusan-Nya, atau keluar

dari senkenario yang sudah ditulis-Nya, dan manusia dituntut untuk selalu berikhtiar, berusaha sekuat tenaga memberikan penghambaan yang terbaik sebelum ia menuntut balik haknya. Imam ‘Atoilah mengingatkan, “Janganlah kau tutut tuhanmu sebab diakhirkannya tujuanmu, tapi tuntutlah dirimu sebab tak bisa menghargai tuhanmu”. Sebenarnya apa yang sudah kita usahakan itulah yang akan kita dapatkan dan hasil dari pada usaha itu akan diperlihatkan, baik-buruk, besar-kecil, manis-pahit, semuanya akan kembali kepada usaha kita masing-masing. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) {QS, An-Najm: 39-40}. Ayat diatas, semoga membuat kita bisa lebih open mind, jangan sampai berkecil hati atau larut dalam kesedihan yang tiada arti, hingga membuat kita keluar dari batas-batas syar’I, mengingkari dan mendustakan apa yang sudah diberi, karena hasil usaha itu bisa menunjukan jati diri manusia yang sesungguhnya, imma syakuura, wa imma kafuura.Sebentar lagi periode baru akan kita jelang, Desember adalah batas akhir yang akan selalu kita temui. Ya, ini adalah bulan yang selalu berada dipenghujung tahun, dan itu berarti tahun 2012 sebentar lagi akan berlalu digantikan dengan tahun 2013 yang masih berupa harapan dan impian. Periode baru, masa baru untuk bangkit, berkaca dari masa lalu mengambil ibrah untuk dijadikan batu pijakan menuju kesuksesan yang lebih gemilang. Walaupun mungkin untuk memulainya ada banyak rintangan dan kesusahan, itu wajar! Yang pasti kita sebagai hamba Allah dianjurkan untuk selalu berusaha dan bekerja. Belajar dari sejarah mengambil hikmah dari setiap jengkalnya, jangan sampai terperosok lagi ke lubang yang sama dan salah dalam mengambil langkah. Karena dalam dunia nyata, keinginan dan harapan itu masih terangkai kuat dalam sangkar mimpi dan imajinasi, tertutup rapat dalam tabir ketidak pastian.

Tidak seperti dalam dunia fiksi, segala sesuatunya bisa kita atur dalam sekenario yang sudah kita tulis sendiri. Kebahagian dan harapan yang tercapai tanpa sebuah rintangan, kesuksesan yang datang sendiri, terasa sangat menyenangkan bila kita membaca cerpen atau novel picisan. Tapi ingat kawan! Kita hidup di dunia yang nyata segala sesuatunya sudah diatur oleh sekenario tuhan, tidak ada yang tahu hari ini, esok, lusa atau kapan kebahagiaan itu bisa kita pegang. Namun berawal dari sebuah mimpi juga, semuanya bisa kita nikmati dan bisa kita rasakan, kalau kita hari ini bekerja keras dan berusaha secara maksimal berdoa tanpa putus asa mimpi dan harapan itu pasti akan terwujud.
Mungkin hari ini kita dihadapkan dengan rahasia Allah yang tidak bisa kita fahami apa substansi yang ada didalamnya, hikmah apa yang akan kita dapatkan? Lalu bagai mana jika kita harus dihadapkan dengan kegagalan? Ya, kegagalan adalah momok yang sangat mengerikan yang karenanya manusia berkeluh kesah, lupa akan siapa yang telah menciptkan kegagalan, dan lupa dengan apa yang sudah ia usahakan sebelum kegagalan itu datang menyapa menghancurkan semua harapan dan impiannya.

Ingat kawan! Kita gagal bukan berarti itu akhir segalanya, masih banyak pintu-pintu keberhasilan yang masih tertutup karena kuncinya belum bisa kita temukan. Bukan hanya kesabaran dan kekuatan yang kita butuhkan untuk mendapatkan kunci itu, tapi realisasi kita dalam mewujudkannya itulah yang sangat penting.
Berbicara kegagalan bukan berarti kita kalah, bukankah kita sering mendengar bahwa kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan, atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda? Thomas Alfa Edison pernah berkata: “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah”.

Sebuah kalimat sugesti yang penulis kumpulkan dari sisa-sisa tetesan keringat kekalahan, berusaha untuk tetap bangkit mengajak semua sahabat untuk tetap berusaha dan tersenyum menatap mentari, menyongsong hari esok dan merubahnya agar lebih baik dari hari ini. Jangan sampai bermuram durja terikat pada sebuah dendam kesumat yang mengakar kuat dalam rongga-rongga jiwa, dan tidak berputus asa dengan rahmat Allah akibat dari kekalahan dan kegagalan yang hanya sementara. Ada sebuah taujihat dari Ibnu Qayyim Rahimahullah yang harus kita renungkan: “Tercapainya tujuan tergantung kepada kesungguhan meninggalkan ‘awaid memutuskan ‘alaiq dan merendahkan ‘alaiq”.
‘Awaid adalah bentuk kesenangan terhadap sikap yang berleha-leha, santai, bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, senang terhadap gambar-gambar yang tidak senonoh dan senang terhadap tempat-tempat yang melenakan serta membuai manusia sampai ia lupa pada tujuan utamanya. Adapun ‘awaiq adalah jenis-jenis pelanggaran yang terlihat ataupun tidak terlihat yang bisa memutuskan hubungan kita dengan Allah. Adapun ‘alaiq adalah segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah. Dari tiga perkara diatas mungkin ada salah satu diantaranya yang pernah kita lakukan, tanpa kia sadari perbuatan itu menjadi rutinitas harian kita, sehingga ketika kita tidak melakukannya, seakan ada sesuatu yang hilang dalam diri kita.

Kekalahan kemarin sudah cukup bagi kita untuk kita jadikan ‘ibrah dan cerminan bahan introfeksi diri. Kita yang berbuat, kita yang akan menyemai hasilnya. Tidak usah kita mempertanyakan apa yang sudah terjadi, tetapi ambilan pelajaran didalamnya, itulah ciri manusia yang bijak. Lading yang selama satu tahun kita garap, kita rawat, kita beri pupuk, dan kita siram setiap hari, ternyata ketika musim panen tiba tidak bisa memberikan hasil yang memuaskan, banyak buah yang masam, ranum, bahkan busuk karena terjangkit virus dan hama yang mematikan. Jangan patah semangat! Karena jalan perjuangan kita masih panjang membentang. Wallahu a’lam.

≈☀╠[“semoga bermanfaat”]╣☀≈