Diari Rama “Islam Menghapus Segala Perbedaan”

Image

Renungan yang terbesit acap kali memperhatikan setiap jama’ah di masjid yang ada di Kairo adalah bahwa Islam memang benar-benar agama rahmatan lil ‘alamin. Sepertinya orang-orang yang selama ini mengecap agama Islam adalah agama teroris penuh dengan kekerasan sekali-kali harus berkunjung ke Kairo, melihat dengan mata dan hati yang terbuka bagai mana sebenarnya Islam itu. Baru setelah itu boleh memberikan kesimpulan.

Shalat dzuhur kali ini pun pemandangan itu selalu sama, masjid yang penuh dengan berbagai macam orang dari belahan dunia, dengan bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bentuk rambut yang berbeda semua itu tidak mengurangi arti persaudaraan dan ukhwah yang ada didalam Islam. Iya, dalam Islam semua kedudukan manusia sama tidak peduli dari mana dia berasal, dari golongan apa dia, dari suku apa dia, semua sekat itu melebur ketika sudah berada didalam naungan Islam, yang membedakan hanyalah iman dan takwa yang ada dibalik hati manusia itu sendiri. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kalian. (QS, Al-hujarat: 13)

Kairo adalah kota terbesar di Mesir dengan kemajemukan penduduknya yang sangat beragam. Hampir manusia diseluruh dunia ada di kota ini, mayoritas para pendatang di Kairo adalah muslim wajar bila mereka bisa langsung menyatu dengan penduduk asli yang mayoritas beraga Islam. Dari segi histori Kairo adalah kota yang tidak bisa dilepaskan dari berbagai peradaban, mulai dari peradaban Fir’aun, Romawi, hingga yang terakhir adalah peradaban Islam. Sebelum Islam dibawa masuk ke Mesir oleh salah seorang sahabat Nabi yaitu ‘Amru bin Ash, pada masa jahiliyah kota Kairo sudah terkenal dengan peradabannya, hal ini menarik keinginan ‘Amru bin Ash untuk mengunjungi Mesir. Hingga pada masa penyebaran Islam di masa kepemimpina khalifah Umar bin Khattab, ‘Amru bin Ash mendapat perintah dari Umar bin Khattab untuk membuka Mesir dan menyebarkan Islam di sana. Mendapatkan mandat besar itu, Amru bin Ash yang sudah menjelajahi Mesir sebelumnya, segera menyetujui perintah Umar bin Khattab.  

Berbagai Dinasti Islam pernah tumbuh dan berkembang di Mesir, di antaranya adalah Dinasti Fatimiyah, Dinasti Ayubiyah dan Dinasti Mamalik, semua dinasti tersebut berperan besar dalam peradaban Islam dan perkembangannya. Sisa-sisa peradaban itu masih dirasakan sampai saat ini, di antaranya adalah universitas Al-Azhar, universitas Islam terbesar dan tertua yang berdiri pada masa Dinasti Fatimiyah. Universitas Al-Azhar berawal dari sebuah masjid yang didirikan oleh Jauhar Al Shaqali, seorang panglima perang pada Dinasti Fathimiyah, pada tanggal 24 Jumadil Ula 359 H (970 M). Seiring berjalannya waktu masjid Al-Azhar semakin ramai dan memiliki peran ganda yaitu sebagai masjid pusat kegiatan Islam dan sebagai lembaga pendidikan.

Ups… Lamunan ku buyar ketika salah seorang jama’ah menyenggol kakiku, pemuda itu lalu tersenyum meminta maaf sambil memegang pundaku. Ah… pelajran itu, pelajran  dari mata kuliah yang paling kusukai “Sejarah Peradaban dan Sastra Arab” aku masih ingat ketika duktur Abdurahman dosen universitas AL-Azhar Zagazig fakultas lughah Arabaiyah yang sudah sangat tua menerangkan tentang perkembangan sastra Arab pada masa Bani Umayyah kemudian beliau menyinggung tentang permulaan Islam masuk ke Mesir yang dibawa oleh Amru bin Ash. Alhamdulillah aku masih ingat beberapa pelajaran yang dulu pernah disampaikan oleh beliau.

Islam yang sudah menjadi aqidah dan undang-undang hidup para pemeluknya telah menunjukan bagai mana  sesungguhnya ukhwah itu, Islam yang mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan, mencintai sesama tanpa pandang bulu telah memperlihatkan bagai mana sesungguhnya Islam itu, damai dan penuh dengan keindahan. Ini adalah gambaran ketika aku memperhatikan jama’ah setelah selesai shalat di masjid Ar-Rasul, Hay Asyir Kairo. Pemandangan lebih indah lagi aku temukan di masjid Al-Azhar, semua manusia dalam masjid itu yang berbeda latar belakangnya menyatu dalam ikatan yang sama, yaitu ikatan iman dan Islam. Padahal mereka datang dari berbagai negara yang berbeda, dengan latar belakang yang berbeda pula. Mulai dari negara-negara benua Asia, Indonesia, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand, Filipina, Afghanistan, Suriah, Turki, Yaman, Bangladesh, India, Pakistan. Lalu masuk ke negara bagian Eropa seperti Rusia dan Prancis, semuanya menyatu dalam Islam. Tapi mengapa  mereka masih mengatkan jika Islam itu agama teroris?

Satu hal lagi yang menurutku sangat mengesankan tentang prinsip ukhwah dalam Islam adalah ketika semua orang dari negara-negara yang disebutkan diatas berbicara dengan menggunakan bahasa pemersatu umat Islam, yaitu bahasa Arab. Sangat indah sekali ketika dalam satu ruangan kita berdiskusi dan berbicara dengan kawan yang berbeda negara menggunakan bahasa Arab. Baru terasa akan benarnya ucapan pak kiyai ketika di Manahijussadat dulu (Pondok Pesantrenku) beliau pernah mengatakan bahwa “Al-lughatul ‘Arabiyyah hia lughatul jannah” bahasa Arab adalah bahasa ahli surga. Mendengar kata-kata surga aku jadi terbayang bagai mana nanti ketika dunia diluluh lantahkan lalu orang-orang yang beriman ditempatkan ditempat yang maha indah dan para pendurhaka ditempatkan ditempat yang penuh siksa. Iya, orang-orang yang beriman akan ditempatkan didalam surga, sebuah tempat yang tidak bisa digambarkan oleh pikiran manusia. Dan penghuninya berbicara dengan bahasa Arab.

Jika ingat kata-kata diatas bagiku Al-Azhar sudah seperti surga, ketika mahasiswa asal Turki, China, Malaysia, Mesir, Indonesia berbicara dan saling menyapa dengan bahasa Arab, bagiku Allah telah memberikan nikmat yang luar biasa. Nikmat, bisa mengerti bahasa Arab, dan mempraktekannya dengan orang-orang yang cinta dengan bahasa Arab. Mungkin pemandangan dan keadaan ini hanya bisa dirasakan di Al-Azhar Kairo, karena semua muslim dari berbagai negara berkumpul di sini. Berbeda dengan suasana di Zagazig, walaupun yang aku rasakan hubungan antara mahasiswa Indonesia, Malaysia, Thailand, Juzur Qamar dan negara lainnya bisa dikatakan lebih dekat, mungkin hanya dengan orang Mesir dan Juzur Qomar saja mahasiswa Indonesia bisa mempraktekan bahasa Arabnya. Tapi di Kairo, semua orang yang berada di Al-Azhar semuanya berbicara dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Turki, kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Prancis kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, ketika bertemu dengan mahasiswa Rusia kita menyapa mereka dengan bahasa Arab, berdiskusi didalam kelaspun dengan bahasa Arab. Begitu juga sebaliknya ketika mereka menyapa, mereka pun menggunakan bahasa Arab.
Ketika dalam kebersamaan dengan berbagai macam orang yang berbeda latar belakang, keindahan ukhwah islamiyah itu begitu terasa, saling menghormati dan saling menghargai, saling mengasihi dan saling berbagi. Ini adalah salah satu ajaran kehidupan dalam Islam, sangat salah jika orang-orang masih menganggap Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan yang disebarkan dengan perang, apalagi mengaitkan Islam dengan agama teroris, sangat salah. Ini baru satu gambaran yang aku dapatkan di Mesir. Pemandangan yang lebih indah lagi pernah aku dapatkan di Makkah, ketika berjuta-juta manusia dari berbagai negara dikumpulkan di masjidil haram, menyatu dalam naungan Islam tidak ada perbedaan dan sekat di antara mereka. Shubhanallah… hanya kata-kata ini yang bisa di ucapkan. Ini baru di negara Arab, coba kita lihat muslim yang ada di Amerika, muslim yang ada di Jerman, muslim yang ada di Prancis dan negara Eropa lainnya, mereka bisa hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya yang non muslim dengan rukun dan damai.

Prinsip ukhwah islamiyah ini menurutku sangat pas jika diterapkan di Indonesia dengan kemajemukan penduduknya. Suku Sunda, Jawa, Betawi, Batak, dan yang lainnya bisa damai berdampingan, mengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi itu baru bisa terjadi jika muslim Indonesia kembali kepada pondasi agamanya yaitu Alqur’an dan sunnah.

Kairo, 30 Desember 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s