Refleksi Pagi

Gambar

Setelah hampir dua minggu lebih berada di kota lama, menghabiskan waktu dengan diktat yang kadang membuat jenuh. Namun bila teringat wajah ibu yang menunggu, rasa itu kembali bisa ku tepis. Bisikan hati yang memanggilku meyakinkanku bahwa aku bisa melewati hari-hari itu. Iya, untuk ibu dan juga adik-adikku aku selalu meyakinkanku bahwa aku bisa! Satu minggu lagi kujalani dengan peran lain, kali ini aku harus bisa menjadi seorang kepala keluarga, lebih tepatnya mungkin belajar menjadi seorang kepala keluarga. Sebelum nanti benar-benar menjadi seorang kepala keluarga. (Aamiin ya Rabb)

Di kota lama waktu satu minggu terakhir ini kulewati dengan menemani seorang sahabat yang sedang diberikan cobaan oleh Allah, Allah memberikan cobaan berupa sakit diperutnya. Sakit magg yang sudah merambat ke liver. Semoga Allah cepat memberikan kesembukan kepadanya. Satu minggu sebenarnya tidak cukup untuk menemaninya, bukan karena aku harus memasak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk dia, bukan karena itu. Untuk seorang sahabat, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Tapi kali ini posisiku benar-benar terdesak, aku harus kembali kepada rutinitasku seperti biasa, mengukir asa melukis peluh di café pelangi agar rindu kepada ibu bisa segera tercurah.

Masjid Ar-Rasul dua minggu kemarin menjadi tempat teduh yang telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran, seperti kisah bapak tua yang aneh yang telah kutulis, serta pertemuan dengan orang Syiria yang ketika itu meminta kepada imam masjid untuk mengumumkan kepada jama’ah shalat dzuhur , bahwa ia sedang membutuhkan bantuan financial. Kita semua tahu bagai mana keadaan syiria saat ini. kisah pertemuan dengan orang Syiria ini baru kutulis sekitar satu paragraph lebih, tapi ternyata setelah sampai ke Zagazig tulisan itu tersendat-sendat, alasan karena lelah setelah seharian bekerja di café Pelangi rasanya kurang bisa di terima, karena seharusnya  aku menjalankan jadwalku bahwa setiap hari sebelum tidur aku harus menulis.

Pulang ke Zagazig, rasanya seperti pulang ke kampung halaman sendiri. Mungkin karena sudah bertahun-tahun aku tinggal di ibu kota provinsi Syarqiyyah ini, satu minggu saja meninggalkan kota kecil itu sudah merasa rindu. Apa lagi nanti ketika aku harus pulang ke Indonesia untuk selamanya. Entah, apakah aku masih bisa menginjakan kaki lagi di kota yang penuh dengan sejarah ini. Semoga Allah masih memberikan kesempatan padaku untuk bisa mengunjunginya kembali setelah nanti kembali ke Indonesia.

Sedikit tercengang, setelah sampai di Zagazig ternyata banyak yang berubah, bangunan-bangunan yang kemarin belum rampung sekarang semuanya sudah hampir selesai. Malah sudah terlihat berwarna-warni dengan cat temboknya yang sangat cerah. Seperti itulah orang Mesir, mereka sangat senang dengan warna yang mencolok, merah, kuning, orange, ungu dan biru tua. Tidak heran jika sebagian kawan-kawan Malaysia di sini menamai rumah mereka dengan warna cat Imarah (flat) yang mereka tinggali, ada imarah hijau, ada juga imarah biru.

Sedikit refleksi mengenang dua minggu kemarin, apa yang sudah ku kerjakan. Semoga Allah mengampuni segala dosa yang kita perbuat baik disengaja ataupun tidak disengaja. Bukan kah Amiirul Mu’minin Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: “Hasibu anfusakum qobla antuhasabu.“ (Evaluasilah (hisablah) dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)”.  Perkataan Umar mengajari kita untuk selalu mengintropeksi diri.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً

Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil.

Zagazig, 27/01/2013

Renungan Ku

Gambar
 
≈☀╠[“Sebuah catatan kecil, yang ditulis
dalam tramco ketika dalam perjalanan pulang
dari Kairo menuju Zagazig”]╣☀≈

Mendengarkan laju angin bercerita, derunya
membawa kisah di antara pohon-pohon yang
berlari ditepi jalan yang panjang melukis
berjuta nasihat, untuk mata yang memandang
dan akal yang berpikir, untuk segala yang
berdetak, bukankah raga dan jiwamu
merasakan? Masihkah ragu dengan kebesaran
dan kuasa-Nya yang begitu perkasa.Awan yang
berjalan dengan terik matahari kadang
berubah mendung, lau tersenyum memberi
cerah dengan segurat pelangi yang terapung
diluasnya cakrawala yang megah.Semua itu,
siapa yang menggerakan? Siapa yang melukis
warnanya? Siapa yang membiarkan angin
menderu mengurai kisahnya?

Berhentilah sesbentar, lalu saat itu,
biarkan akalmu berpikir sejenak. Hiruplah
nafas panjang dan lepaskanlah hatimu biar
ia yang menentukan.Perlahan hatimu akan
berbisik, bahwa semua itu tidak terjadi
secara kebetulan. Ya, semua itu ada yang
menciptakan ada yang menggerakan. Dialah
Rabbmu tuhan semesta alam. Dia yang
menjadikan bumi sebagai hamparan, dan
gunung-gunung sebagai pasak, Dia yang telah
menjadikan matahari begitu terang
benderang. Lalu terbenam diarah barat
melukis senja dengan warna jingganya yang
merona. “Dan suatu tanda (kebesaran Allah),
bagi mereka adalah malam, kami tanggalkan
siang dari (malam) itu, maka seketika
mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari
berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah
ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha
Mengetahui”*

Jika engkau telah tahu, maka genggamlah
cahaya itu, peluk erat hidayah yang telah
mengaliri hatimu. Karena alam pun telah
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak
disembah kecualai Allah, dan Muhammad
adalah utusan Allah. Maha suci Allah karena
Dia telah memilihmu untuk merasakan
manisnya iman. Dia yang telah menyingkirkan
gelap ditengah kebimbanganmu,
menggantikannya dengan cahaya menyinari
segenap rongga tubuhmu. Ikuti, ikutilah apa
yang telah di ucapkan oleh mereka yang
telah mendahuluimu “Aku bersaksi bahwa tada
tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah
rasulullah”.

Seyakin hatimu hari ini, ‘Katakanlah:
“Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah
Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu.Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan, dan tidak ada seorang pun
yang setara dengan Dia”.**

*{Q.S, Yaasin: 37-38}
**{Q.S, Al-Ikhlas:1-4}

Zagazig, 21/01/013

 
poto copas dari memen-wordpress.com

Pelajaran Dari Bapak Tua

Bapak tua itu, siapa sebenarnya ia? Aneh, ya aneh. Kata ini langsung terlontar dari mulutku ketika memperhatikan tingkah bapak tua itu. Pertama kulihat ia berdiri di barisan shaf pertama kemudian memilih mundur kebelakang dan mempersilahkan orang lain untuk menempati tempatnya tadi. Padahal shaf pertama lebih baik dibandingkan shaf yang kedua atau barisan yang ketiga tempat di mana aku berdiri sekarang. Bapak tua itu, kenapa dia seperti itu? Ternyata bukan hanya aku saja yang merasa terganggu dengan tingkahnya. Sikapnya yang pelik seperti anak kecil yang baru belajar shalat, kadang ia menengok kekiri dan kekanan. Sesekali pandangannya ia arahkan ke pintu masjid memperhatikan para jama’ah yang terlambat datang, padahal pintu masjid itu jauh berada dibelakangnya. Ulahnya membuat orang-orang yang ada disekelilingnya merasa kurang nyaman bahkan kekhusyuan mereka pun berkurang karena ulah bapak tua itu. Dan ternyata benar, bukan aku saja yang merasa kenyamanannya tersita ketika shalat dzuhur tadi. Buktinya selesai shalat banyak para jama’ah yang mempertanyakan siapa bapak tua itu, dengan  mata mereka yang tidak berhenti memperhatikan sosoknya, seorang bapak tua tapi prilakunya seperti anak kecil.

Waktu shalat ashar aku lebih bergegas lagi, kerana flat sahabatku yang berada di lantai empat tidak seperti flatku di Zagazig yang berada di lantai dasar, masjid pun terbilang dekat dengan flatku walaupun itu hanya masjid kecil. Sesampainya di beranda masjid Ar-rasul mataku langsung terhenti pada bapak tua yang baru kulihat dua hari ini. iya, aku selalu melihatnya di masjid yang baru kusinggahi ini. Aku selalu melihatnya ketika shalat dzuhur, shalat ashar, shalat maghrib, shalat isya dan kali ini ia lebih dulu sampai di masjid. Atau mungkin bapak tua itu juga selalu lebih dulu dibandingkan dengan orang-orang lain seperti ku. Tapi sikapnya masih aneh seperti sebelum-sebelumnya, sekarang tingkah bapak tua itu seperti resepsionis, baru kali ini aku melihat resepsionis di sebuah masjid. Setiap kali ada orang yang datang, bapak tua itu selalu menyambutnya dengan wajah penuh senyuman. Kadang bapak tua itu juga menuntun orang yang disambutnya sampai kedalam masjid, orang yang dituntunnyapun hanya bisa tertawa kecil sambil mengucapkan kata syukran berkali-kali. Sampai iqomah tiba kuperhatikan bapak tua itu masih menyambut orang-orang yang datang ke masjid untuk melaksanakan shalat ashar. Bapak tua itu, siapa sebenarnya ia? Kenapa prilakunya bisa seperti itu? Dua pertanyaan ini selalu membuatku penasaran dengan sosok bapak tua yang mengenakan jubah abu-abu itu.

Kuperhatikan, bapak tua itu juga seperti masyarakat Mesir pada umumnya. Kepalanya bersorban, namun agak lucu karena sorbannya tidak sepenuhnya menutupi kepalanya yang botak. Selesai shalatpun ia langsung mengeluarkan tasbihnya, memutarnya dengan kasar hingga menimbulkan suara gesekan untaian butiran manik-maniknya yang berbentuk elips berwarna hijau teranag. Bunyinya keras membuat orang-orang yang mendengarnya menoleh kearahnya, sambil mengeja sebuah dzikir setelah shalat, bapak tua itu membalas dengan senyumnya kesetiap orang yang melihatnya. Tidak tahu, apakah ia benar-benar berdzikir atau hanya mengomat-ngamitkan bibirnya saja. Sepertinya bapak tua itu juga memiliki banyak tasbih, karena kuperhatikan setiap kali shalat tasbihnya selalu berubah-ubah, kadang yang berbentuk elips berwarna hijau terang, kadang juga yang berbentuk bulat penuh berwarna biru, ada juga yang berwarna merah gelap.

Kadang bapak tua itu juga mengajak salah satu jama’ah yang ditemuinya untuk berbincang-bincang sesuatu. Walaupun orang yang diajaknya bicara hanya menanggapinya dengan sebuah tawa kecil dan sesekali menganggukan kepalanya, kuperhatikan bapak tua itu merasa sangat girang lalu tertawa sambil menunjukan giginya yang tidak rata. Banyak pelajaran yang sebenarnya kuambil dari bapak tua itu, dengan prilakunya yang ganjil, ia masih tetap shalat berjama’ah di masjid selalu tepat waktu tidak pernah terlambat. Selalu menyempatkan untuk berdizkir setelah shalat, berdoa, lalu dilanjutkan dengan shalat sunnah. Lalu apalagi alasan kita sebagai orang yang dikaruniai kesehatan akal dan tubuh, tapi masih tetap tidak shalat berjama’ah di masjid.

Cairo, 17/ 01/ 013

Karena Mantiq Mereka Berdemonstrasi

Image

Image

Image

Tanggal 12 Januari kemarin menjadi hari ujian terakhir di termin pertama ini. Mata kuliah mantiq,mungkin bagi sebagian mahasiswa lain maddah ini biasa, tapi saya sepakat dengan mahasiswa-mahasiswa yang melakukan demonstrasi setelah ujian kemarin, demonstrasi yang meneriakan soal-soal yang penuh mengisi halama kertas A4 itu bathil. Iya, mereka meneriakan jika soal ujian yang diberikan oleh duktur (doctor/dosen) itu bathil,  imej kalau maddah ini terbilang horror memang benar, apa lagi dosennya juga killer. Sempurnalah sudah penderitaan mahasiswa pada wakatu itu. Tak terkecuali mahsiswa wafidin (asing) termasuk didalamnya mahsiswa Indonesia, Malaysia, Thailand, Turki, Nigeria dan lain-lain.

Para mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut bahwa soal ujian hari ini bathil dan meminta duktur untuk mengulang ujian mata kuliah mantiq, teman-teman satu ruangan juga sepakat jika soal ujian yang diberikan oleh duktur sudah keluar dari batas kemampuan mahasiswa. Ini terlihat dari sikap dan keluhan mereka ketika melihat soal ujian itu, bahkan diantara mereka ada yang memilih meninggalkan ruangan ujian karena tidak mampu mengisi soal ujian yang susah dan begitu banyaknya. Ketika duktur pengajar mata kuliah mantiq datang dan menanyakan kepada seluruh mahasiswa diruang ujian tentang soal ujian hari itu mereka semua bungkam menahan tawa, karena yang ditanyakan oleh duktur memang sedikit lucu “bagaimana anak-anak, semua soalnya gampang bukan? Tidak ada yang perlu di perjelas lagi” setelah sang duktur pergi meninggalkan ruangan, salah satu mahasiswa berkulit hitam asal Nigeria mengungkapkan ketidak berdayaannya pada pengawas ujian. “Apa ini! soal begini susahnya dibilang tidak perlu ada lagi yang dijelaskan”.

Konsentrasipun semakin buyar ketika teriakan-teriakan mahasiswa yang berdemo bergitu terdengar menggelegar menembus ruang ujian, ditambah lagi dengan sikap para pengawas yang juga turut mengeruhkan suasana. Akhirnya empat soal ujian yang bercabang menjadi 17 soal dan bearanak begitu banyak hanya terjawab dua soal saja. Nomor satu dan nomor dua, dengan menjawab dua soal ini juga sudah sangat memeras otak. Karena di dua poin pertanyaan ini ada sepuluh cabang pertanyaan yang sangat luar biasa. “Bismillah, tawakaltu ‘alallah” hanya kalimat ini yang bisa terucap sebelum meninggalkan ruang ujian.

Ketika mengikuti “bimbel” sebenarnya pembimbing juga sudah mengingatkan hati-hati dengan kitab karangan Imam Sa’iduddin Mas’ud bin Umar At-taftazani, selain didalamnya ada pertentangan penyarahnya Syaikh Ubaidillah bin Fadhlullah Alkhabishi, soal ujian madah ini juga kadang menjebak karena soal-soalnya yang sering dibulak-balikan. Tapi bagi saya semua mata kuliah harus ekstra hati-hati. Semoga ujian hari itu menjadi bahan renungan untuk belajar lebih giat lagi.

Cairo, 13-Januari-2013