Cerita Dari Kampung Permai

Gambar
Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan tentang ini, tapi rasa gelisah yang menumpuk itu ternyata tidak bisa lagi saya pendam. Ini bukan karena rasa iri, hasad atau pun sikap sentiment saya kepada seseorang (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat-sifat yang tercela itu). Karena setiap orang pasti memiliki opini tentang apa yang terjadi di lingkungannya. Dan sudah menjadi kewajiban bagi para penghuni lingkungan itu untuk saling mengingatkan. Bukankah saling menasehati dalam kebaikan merupakan anjuran dalam agama kita?
 
Enam tahun yang lalu, organisasi kampung permai adalah sebuah organisasi yang sangat menjungjung tinggi nilai akhlakul karimah. Semuanya patuh pada peraturan daerah (perda) yang disepakati bersama. MPR kampong permai selaku badan perwakilan masyarakat yang mengesahkan peraturan itu. Jika kita mengkaji kembali perda di kampong permai, sepertinya tidak ada yang perlu di kritisi kembali, karena pengambilan referensi utama dalam perda tersebut adalah Al-qur’an dan sunnah, hal ini termaktub didalam bab pertama peraturan itu. Kita sama-sama tahu, karena kita sendiri yang merumuskannya setahun sekali. Tapi sekarang, peraturan itu hanya tinggal sebuah tulisan usang yang tidak lagi sarat dengan substansi. Karena orang yang mengesahkan perda tersebut tidak mengindahkan perda yang sudah disidangkan disetiap program sacral tahunan, yaitu sidang permusyawaratan daerah.
 
Melihat situasai seperti sekarang ini, banyak masyarkat yang memendam keluhan mereka, tanpa bisa mengungkapkannya. Meskipun banyak yang menanggapinya secara biasa, tapi ada juga yang membicarakan masalah ini di belakang layar. Tapi tetap, MPR kampong permai seolah tidak menanggapi permasalahan yang ada, apa mungkin karena yang melanggar perda tersebut adalah salah satu stafnya? Sebagai insan akademis seharusnya ia tahu apa yang harus dilakukan. Staf yang melanggar juga seharusnya bisa mengambil jalan ksatria yaitu mengundurkan diri dari anggota MPR kampong permai. Menurut saya ini jalan satu-satunya untuk membuat MPR kampong permai kembali berwibawa.
 
Jika sudah seperti ini, rasa rindu akan kampong permai yang dulu terus saja mengharu biru. Karena di sana bukan hanya ada kenangan, tapi pelajaran dari sebuah lingkungan yang terjaga dan berdisiplin yang bernafaskan semangat berakhlakul karimah. Semua itu terwujud tidak secara kebetulan, tapi dibalik itu semua ada sosok dan figure yang berusaha keras untuk menciptakan lingkungan islami itu. Salah satu wadah yang mengatur dan menjalankannya adalah organisasi induk kampong permai, dewan legislative yang mengomandoi seluruh mahasiswa yang ada di kampong permai. Dibawah pengawasan MPR kampong permai sebagai dewan yudikatif. Semuanya saling bersinergi dan saling take and gave untuk selalu mengingatkan agar menjaga lingkungan kampong permai yang baik itu.
 
Tidak heran, jika ada salah satu anggota masyarakat kampong permai yang melanggar. Maka pihak MPR akan menegurnya. Permasalahannya sekarang adalah yang melanggar peraturan itu staf MPR kampong permai sendiri. Siapa yang akan menegurnya selain orang-orang yang berada di MPR sendiri? Mungkin gubernur organisasi induk kampong permai bisa saja melakukan hal itu, tapi secara prosedur itu sudah menyalahi etika dalam berorganisasi. Dalam situasi seperti ini, masih perlukah tatakrama dalam berorganisasi? Lalu apa yang harus di lakukan oleh masyarakat kampong permai? Mungkin diam lebih baik, karena jiwa-jiwa yang kritis itu sudah lama pergi. Dan kampong permai hanya berisikan sosok manusia seperti sebatang kayu yang terombang-ambing di lautan. Dan saya, adalah salah satu sosok manusia itu. Sungguh ironis…!! 
 
(Kampung permai, 19/02/013)

≈☀╠[“Pelajaran Dari Pemuda Berkaki Satu”]╣☀≈

Gambar

Tepatnya ashar tadi aku melihat pemandangan yang tidak seperti biasanya. Mushala nurrusalam, kali ini kedatangan seorang jama’ah yang baru aku lihat pertama kali. Mushala kecil yang berada dibawah café Pelangi ini memang tidak pernah ramai oleh jama’ah, biasanya juga hanya kami berlima yang meramaikan mushalah itu. Syaikh Ghido seorang pemegang kunci sekaligus muadzin di mushalah kecil itu, dengan suaranya yang terputus-putus ketika mengumandangkan adzan, kadang membuat kami yang berada di café Pelangi harus menahan tawa. Syaikh Ghido memang sudah sepuh, nafasnya yang tersengal-sengal tidak bisa menarik saura panjang ketika beliau adzan. Kadang aku yang menggantikan peran beliau sebagai muadzin, walaupun tidak terlalu sering tapi itu cukup membuat syaikh Ghido tersenyum puas. Ya, senyumnya yang tulus itu memberikan kedamaian tersendiri bagiku.

Lalu apa yang terjadi ashar tadi? Mataku sedikit terbelalak ketika melihat seorang pemuda berpakaian kumuh penuh dengan tumpahan cat berwarna putih. Sambil duduk ia sedang melaksanakan shalat sunnah qabliyah. Yang membuat keadaan semakin sayu adalah ketika mataku menelisik kearah pemuda itu, ternyata pemuda itu hanya memiliki satu kaki. Setelah semua jama’ah yang ada di mushala kecil itu selesai melaksanakan shalat sunnah qabliyah aku pun berdiri mengumandangkan iqamah. Aku persilahkan bang Kasmon maju sebagai imam.

Diantara empat ma’mum jama’ah shalat ashar, aku berdiri tepat disamping pemuda itu. “Shubhanallah” lirihku dalam hati sebelum takbiratul ihram. Ternyata, walaupun hanya dengan satu kaki pemuda itu shalat seperti orang biasa, berdiri tanpa harus bersandar pada sebuah tongkat. Gerakannya pun sempurna, ketika ia ruku’ ketika ia sujud semuanya ia lakukan tanpa beban. Setelah selesai shalat aku baru tahu jika pemuda itu adalah salah satu pekerja buruh bangunan disebuah proyek besar tepat disamping flat café Pelangi. Subhanallah kembali dapat pelajaran dari seorang pemuda berkaki satu, kegigihannya untuk melaksanakan panggilan Allah, semangatnya untuk melaksanakan shalat berjama’ah tidak padam walaupun ia memiliki satu kaki, bahkan ia pun meninggalkan kesibukannya sebentar demi memenuhi panggilan Sang Penggenggam jagad raya itu. Lalu bagai mana dengan kita?

Sore itupun kembali bermakna, karena pelajaran itu ternyata bisa kita temukan di mana saja. Semoga hati kita pun di lapangkan oleh Allah untuk bisa menerima setiap peringatannya. Sesampainya di café Pelangi, aku masih memikirkan kejadian tadi. Aku teringat pada sosok sahabat Rasul yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahu ’anhu. Sosok sahabat yang satu inipun memiliki semangat dan kegigihan yang tinggi untuk selalu shalat berjama’ah bersama Rasulallah walaupun ia tidak bisa melihat. Kisahnya yang selalu tergambar dibenak ku adalah ketika Rasulallah bermuka masam kepadanya, waktu itu, Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Rasulallah meminta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-qur’an. “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepadamu!”

Namun Rasul SAW yang mulia tidak mempedulikan permintaan Abdullah bin Ummi Maktum bahkan berpaling lalu meneruskan pembicaraannya dengan para pemuka Quraisy. Waktu itu Nabi berharap semoga dengan Islamnya para pembesar Quraisy, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Atas peristiwa itu, Allah SWT menegur Nabi dengan menurunkan wahyu kepadanya “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti. (QS: ‘Abasa : 1 – 16)

Selain itu, ada lagi kisah penuh hikmah dan pelajaran dari Abdullah bin Ummi Maktum, Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda Rasulullah Saw, ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama’ah shubuh, karena tak ada yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan?”, Abdullah lantas menjawab: “Tentu baginda”, “Kalau begitu tidak ada keringanan untukmu”, tandas Rasul. Sebagai hamba Allah yang selalu istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya. Abdullah bin Ummi Maktum pun taat dan patuh atas apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadanya. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid, sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk menuju seruan Allah. Meskipun di awal ia mencoba ia harus jatuh tersungkur tersandung batu sampai wajahnya pun terluka dan berdarah. Namun ia tetap gigih dan istiqomah untuk bisa shalat subuh berjama’ah di masjid.

Sebuah hikmah yang terbersit sore tadi, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran didalamnya. Wallahu a’lam.

≈☀╠[“Aku Dan Hari Jum’at”]╣☀≈

Gambar

Jum’at hari ini tidak seperti jum’at lalu,
jum’at ini langitnya lebih cerah
dibandingkan dengan jum’at lalu. Jalanan
pun sudah kembali mengering walaupun sisa-
sisa lumpur masih terlihat di sepanjang
jalan, sisa lumpur yang mengering itu
membuat jalanan tidak lagi nyaman,
khususnya bagi mereka yang sering
bersepeda, bisa merasakannya. Tapi
ternyata, walaupun sudah hampir satu minggu
berlalu masih ada kawasan ZagaZig yang
masih terendam oleh air hujan.
Kawasan plaza mishriyah arah menuju Hyper
market, ruas jalan di sana masih tergenang
oleh air. Tepat didepan gedung daarul
munasabat yang dulu pernah di jadikan
tempat walimahan anaknya almarhum Syaikh
Nur Quthb (semoga Allah menerima amal baik
beliaua) Sedikit sekilas info tentang
Zagazig hari ini.

Seperti biasa jum’at ini masjid assalam MTA
vodafone, begini kawan-kawan Malaysia
menyebut tempat yang dulu sering menjadi
pertemuan singkat teman-teman Indonesia.
Iya, setelah shalat jum’at kami biasanya
berkumpul didepan masjid, sekedar untuk
saling menanyakan kabar dan berbagi
informasi baru, dengan gaya khasnya cipika
cipiki mahasiswa Indonesia di Zagazig. Tapi
pemandangan itu telah berubah seiring
berjalannya waktu. Di karenakan teman-teman
memang sudah banyak yang pulang
meninggalkan Zagazig) masjid itu selalu
penuh sesak, masjid favorit mahasiswa
Indonesia untuk melaksanakan shalat jum’at.
Selain durasi waktunya yang tidak terlalu
lama, dalam khutbahnya Syaikh ‘Athif juga
selalu memberikan materi yang menarik,
dengan bahasa fushahnya yang tak pernah
beliau lepas ketika berkhutbah. Gaya dan
suaranya yang khas juga menjadi daya tarik
tersendiri, siapa yang tidak tersentuh
mendengar nasihat beliau yang mendayu-dayu.

Kadang beliau juga sampai meneteskan air
mata ketika membahas masalah hari akhir
dan lamanya perjalanan manusia di akhirat
nanti.

Kali ini, beliau membahas tentang “Jalan
bertaqarub kepada Allah dan mendapatkan
cinta-Nya”. Diawali dengan hadits arba’in
An-nawawiyah yang ke 38, sudah menjadi ciri
khas beliau ketika menyebutkan sebuah
hadits beliau selalu mengulangnya sampai
tiga kali, mungkin tujuan beliau adalah
agar para mustami’ bisa benar-benar
menghayati hadits yang beliau sampaikan;

إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ

عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ؛ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي

يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ رَوَاهُ

الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahawa
Rasulullah SAW bersabda : ” Sesungguhnya
Allah Ta’ala berfirman : Barangsiapa yang
memusuhi waliKu (orang yang setia padaku),
maka sesungguhnya aku mengisytiharkan
perang terhadapnya. Dan tiada seorang
hambaku yang bertaqarrub (beramal) kepadaKu
dengan sesuatu yang lebih Ku cintai hanya
dari ia menunaikan semua yang ku fardhukan
ke atas dirinya. Dan hendaklah hambaKu
sentiasa bertaqarrub dirinya kepadaKu
dengan nawafil (ibadat sunat) sehingga Aku
mencintainya. Maka apabila Aku telah
mencintainya, nescaya adalah Aku sebagai
pendengarannya yang ia mendengar dengannya,
dan sebagai penghilantannya yang ia melihat
dengannya, dan sebagai tangannya yang ia
bertindak dengannya, dan sebagai kakinya
yang ia berjalan dengannya. Dan sekiranya
ia meminta kepadaKu nescaya Aku berikan
kepadanya, dan sekiranya ia memohon
perlindungan kepadaKu nescaya Aku lindungi
ia.

Beliau juga membahas tentang fenomena
manusia yang mengasingkan diri dari
jama’ah, mereka mecari pelindung untuk
melindungi dirinya dari musuh-musuhnya.
Tidak sedikit juga diantara mereka yang
mengutip perkataan orang hanya untuk
mempertahankan eksistensinya. Mereka datang
kepada orang-orang yang lebih kuat untuk
memohon perlindungan dan bantuan.
Menuhankan harta dan jabatan.
Pada hakikatnya ada sesuatu yang tidak
terlihat oleh mereka, yaitu mereka
menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Mereka meminta pertolongan pada makhluk
yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan
sama sekali. Akan tetapi jika kita mencari
petunjuk, jika kita mencari perlindungan,
jika kita mencari dzat yang bisa menjaga
kita sepanjang waktu, maka mintalah kepada
Allah. Karena Dialah Zat yang maha kuasa
atas segala hambanya.

Lalu ada fenomena lain yang beliau
sampaikan juga dalam khutbahnya, yaitu
ketika manusia membenci dan memusuhi
orang-orang yang sholeh, mereka memfitnah
dan mencaci mereka dengan perkataan yang
tidak pantas di ucapkan. Pada hakikatnya
mereka memusuhi Allah dan menyatakan perang
kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa kalian
tidak akan mampu melawan orang-orang shaleh
tersebut, karena yang menjaga dan
melindungi mereka adalah Allah SWT.

Setelah shalat jum’at, dalam perjalan
menuju cafe Pelangi isi khutbah syaikh
‘Athif terus terngiang-ngiang dalam benak
saya, rasanya kondisi yang beliau gambarkan
benar-benar tepat pada sasaran. Baik untuk
permasalahan di Mesir khususnya dan
permasalahan seluruh umat pada umumnya. Di
Mesir saya bisa merasakan dan melihat
bagaimana Presiden barunya Dr. Muhammad
Mursi, dihina, dicaci, dimusuhi dan dibenci
oleh rakyatnya yang tidak senang dengan
penetapan syariat Islam.

Iya, hanya orang-orang sekuler dan liberal
lah yang menginginkan Presiden Muhammad
Mursi dilengserkan dari kursi
kepemimpinannya. Saya rasa, jika orang
asing saja bisa melihat bagaimana
syakhsiyah presiden Mursi, seharusnya
orang-orang Mesir sendiri lebih bisa
melihat dan merasakannya. Tapi itulah yang
namanya dunia, selalu ada pertentangan,
selalu ada peperangan antara hitam dan
putih, antara baik dan buruk. Semoga Allah
selalu menjaga Presiden Mesir yang hafal
Alqur’an ini, dan kondisi Mesir bisa segera
stabil. Aamiin..

Alhamdulillah, semoga jum’at depan kita
masih diberikan nikmat kesehatan oleh
Allah, dan juga diberikan nikmat kesempatan
untuk melaksanakan shalat jum’at sebagai
kewajiban dari setiap muslim laki-laki.
Kadang ada diantara kita yang tidak bisa
melaksanakan shalat jum’at karean udzur
yang menghalangi. Wallahu a’lam..

Kampung Permai, 09/02/013

“Persoalannya sekarang adalah, kenapa banyak orang yang cerdas tapi tidak cerdas hatinya? Banyak orang yang pintar tapi prilakunya tidak sepintar otaknya. Banyak orang cerdas di kepala tapi tidak cerdas didalam hati” (sedikit mengutip perkataan Papin Maesa)

Gambar

Selepas ashar tadi, semuanya berjalan
begitu cepat. Bersitan hati menerawang
tentang waktu dan kondisi yang membentuk
kebiasaan dalam diri makhluk yang
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia
amat kikir. Itulah kita, manusia. Karena
kita yang menciptakan kebiasaan itu,
semuanya bergerak mengikuti nalar yang ada
dalam lingkungan yang kita tinggali.

Di antara kita, siapa yang tidak pernah
mendengar sebuah pepatah bahwa manusia
tercipta dari lingkungnnya. Lingkungan di
sekitar kita membentuk karakter yang
menjadi kebiasaannya. Ketika kita berada di
ligkungan yang berdisiplin, secara otomatis
kita pun akan hanyut dalam arus lingkungan
itu. Ketika kita berada di sebuah pesantren
ataupun sekolah yang berasrama, sangat kita
rasakan segala sesuatunya sudah teratur.

Misalnya jam sepuluh malam kita sudah harus
tidur, lalu jam empat pagi kita juga harus
terbangun untuk bersiap-siap pergi ke
masjid melaksanakan shalat subuh. Jam tujuh
pagi kita sudah harus berada di kelas
sampai waktu istirahat jam sembilan pagi,
dan seterusnya.

Kebiasaan berdisiplin itu, menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari penghuni
lingkungan itu. Di sebuah lembaga
pendidikan Islam yang mengusung tinggi
nilai akhlaqul karimah, semua penghuni di
sana wajib mematuhi semua peraturan itu.
Siswa ataupun guru, semuanya harus taat
pada disiplin yang sudah ada. Baik yang
tertulis ataupun tidak tertulis.

Sore tadi pun angan itu terbang ke masa
lalu, mengusik kembali masa-masa ketika
duduk di bangku SMP. Baru terpikir, bahwa
ketika saya di sana pun sangat dituntut
berdisiplin. Guru-gurunya mengajari saya
untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti.
Bahkan di Jepang yang kebanyakan lembaga
pendidikannya berpaham liberal tetap
mengedepankan disiplin dan budi pekerti
yang tinggi bagi setiap siswa atapun
pengajarnya.Saat itu saya mengambil sebuah
kesimpulan bahwa setiap lembaga pendidikan
mempunyai misi bukan hanya mencerdaskan
manusia. Tapi juga mendidik manusia untuk
menjadi manusia yang berbudi pekerti dan
berakhlaqul karimah.

Persoalannya sekarang adalah, kenapa banyak
orang yang cerdas tapi tidak cerdas
hatinya? Banyak orang yang pintar tapi
prilakunya tidak sepintar otaknya. Banyak
orang cerdas di kepala tapi tidak cerdas
didalam hati (sedikit mengutip perkataan
Papin Maesa)
Padahal orang-orang cerdas itu
berpendidikan tinggi dan banyak yang lahir
dari institusi pendidikan yang unggulan dan
ternama. Belum lama ini kita di suguhkan
dengan berita dari media tentang tawuran
pelajar, hingga menewaskan salah satu di
antara mereka. Dan masih banyak berita-
berita lainnya yang menggambarkan betapa
ironisnya pendidikan di negara kita.

Kita juga tidak bisa menyalahkan lembaga
tempat mereka belajar. karena untuk
menciptakan generasi yang madani
membutuhkan kerja keras dan juga kerja sama
dari semua pihak, dalam hal ini adalah
pihak sekolah dan orang tua memiliki peran
penting dalam pembentukan jiwa para siswa
dan anak-anaknya.

Suatu hari, pernah ada teman yang
berceloteh, “Kalau inget masa-masa di
pesantren dulu, rasanya indah banget.
Damai, tentram, tidak ada orang jahat di
dalamnya. Senakal-nakalnya anak pesantren
paling hanya merokok dan sering kabur-
kaburan dari pesantren. Itupun pihak
pesantren langsung mentahdzir dan
memberikan hukuman. Setelah itu semuanya
kembali pada porosnya, mereka membaur
kembali pada disiplin yang ada di
pesantren” tidak lama setelah itu teman
saya berujar dengan nada heran “Tapi kenapa
setelah mereka selesai dari pesantren
mereka banyak meninggalkan ajaran dan ilmu
yang sudah mereka dapatkan di pesantren?”

Kegelisahan teman saya itu juga mengusik
pikiran saya. Karena memang benar apa yang
dirisaukannya, tidak sedikit mereka yang
dulu belajar di pesantren tapi setelah
keluar dari pesantren mereka melepaskan
jilbab dan berbusana seperti perempuan
jahiliyah. Yang laki-lakinya pun banyak
yang terjerumus pada pergaulan bebas.
Seolah-olah mereka lupa bahwa mereka pernah
belajar di pesantren. Naudzubillahi min
dzalik.

Kita pun tidak bisa menyalahkan pesantren
yang telah mendidik mereka. Karena semakin
bertambahnya usia seseorang ia akan semakin
paham tentang dua hal yang ada di dunia,
yaitu kebaikan dan keburukan, ia akan
semakin bisa membedakan antara hitam dan
putih. Sebelum bertindak ia akan berpikir
tentang sebab dan akibatnya, tentang
mudharat dan manfaatnya.

Solusi terakhir, kita harus senantiasa
memuhasabah diri. Apakah kita sudah menjadi
manusia yang beriman? Apakah kita sudah
menjadi manusia yang berakhlaqul karimah?
Bukankah kita sudah sama-sama mengetahui
bahwa Nabi diutus untuk menyempurnakan
akhlak manusia. Lalu kenapa kita enggan
mengikuti sunah dan perintah Rasul kita
yang sudah dijamin kemuliaannya oleh Allah
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung” (QS. al-Qalam/68: 4).

Hasan Al-Bashri juga berkata “Akhlak luhur
seorang mukmin adalah perkasa dalam
kelembutan, kokoh dalam memegang ajaran
agama, iman dan keyakinan, hasrat tinggi
mencari ilmu, hemat dalam belanja, mau
memberi saat lapang rezeki, qana’ah saat
kekurangan, kasih sayang terhadap orang
yang kekurangan, memberi dengan kemurahan
hati, dan istiqamah dalam kebaikan.
Selanjutnya, ketika kita sudah terbiasa
dengan lingkungan yang baik, lalu kita
dihadapkan pada lingkungan yang tidak kita
kehendaki, maka ciptakanlah lingkungan baik
itu, jangan sampai malah kita yang terbawa
oleh lingkungan yang tidak baik itu.
Mungkin sedikit berat tapi hasil dari
kesusahan itu adalah kebaikan yang tidak
akan terputus.

Beruntunglah kita yang berada dilingkungan
yang baik dan islami. Maka jangan sia-
siakan kesempatan baik itu untuk selalu
mendekatkan diri kepada Rabb kita. Mulai
dari hal yang biasa kita lakukan, seperti
melaksanakan shalat berjama’ah di masjid
walaupun kita dalam keadaan sibuk,
tinggalkanlah kesibukan itu sebentar,
luangkanlah waktu barang 10 menit untuk
menghadap Rabb kita.

Selain itu, bergabunglah dalam sebuah
jama’ah yang selalu menunjukan kita dalam
kebaikan. Karena ketika dalam jama’ah kita
akan selalu termotivasi untuk selalu
istiqamah menjadi manusia yang berakhlaqul
karimah. Berpegang teguh pada keyakinan dan
keimanan. Di sana ada yang selalu
mengingatkan dan juga menunjukan kita untuk
selalu berpegang teguh pada keimanan dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat
menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat menasihati supaya menetapi
kesabaran.

Wallahu a’lam

Kampung Permai, 09/02/013

Ia Tidak Dikenal Oleh Manusia, Tapi Dikenal Oleh Rabnya Manusia

Gambar

Rasa penasaran itu masih begitu lekat, jum’at lalu Syaikh ‘Athif dalam khutbahnya menceritakan tentang salah seorang sahabat  Rasul dan seorang wanita shalihah. Nama itu memang sudah tidak asing lagi bagi saya, tapi kisah perjalanan sosok sahabat itu baru saya dengar. Astaghfirullah,  lagi-lagi diri ini begitu sombong merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Padahal begitu banyak hal yang masih belum saya ketahui, seperti jum’at kemarin dengan suara sendunya syaikh ‘Athif menceritakan sosok sahabat yang mungkin memang jarang kita dengar. Bahkan sahabat-sahabat Rasul sendiri ketika dalam sebuah peperangan tidak ada yang menyebutkan namanya padahal ketika itu Rasulallah sudah bertanya kepada mereka, dan mengulang pertanyaannya sebanyak tiga kali, tapi para sahabat tetap tidak mengetahui keberadaannya.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” Lalu Nabi bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Iya, sosok sahabat Rasul itu bernama Julaibib radhiallahu ‘anhu, seorang pemuda Madinah yang berperawakan pendek dan tidak memiliki rupa yang rupawan, tapi memiliki keindahan budi pekerti yang luar biasa. Ia juga memiliki jiwa yang bersih dan iman yang melekat kuat didalam hatinya serta keteguhan yang sangat kuat mengakar seperti gunung. Julaibib Radhiallahu ‘anhu adalah sahabat dari kalangan Anshar kecintaan mereka kepada Rasulallah membuat mereka pun dicintai oleh Allah SWT.

Syaikh Mahmud Al-Mashri dalam kitabnya “Ashabu Rasul” (para sahabat Rasul) ketika menjelaskan tentang Julaibib, beliau mengawalinya dengan sebuah hadits Rasulallah SAW: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR: Muslim dan Ibnu Majjah  dari Abu Hurairah, shahiihul jami’ 1862) iya, karena Julaibib tidak memiliki rupa yang indah, ia tidak setampan sahabat Nabi Mush’ab bin Umair Radhiallahu ‘anhu, tapi ia memiliki keimanan yang sangat besar serta semangat jihad yang sangat tinggi, tidak sedikit penduduk Madinah yang memandangnya dengan sebelah mata. Tetapi Allah  SWT ketika mengukur derajat hambanya berbeda jauh dengan yang digambarkan oleh manusia. Kadang manusia terlihat tercela di mata manusia yang lainnya, tapi ternyata di sisi Allah ia adalah sebaik-baiknya manusia. Tentang hal ini Rasul pun mengingatkan kita dalam sabdanya:   “Berapa banyak orang yang pakaiannya kusut dan berdebu yang sudah usang,   doanya tidak ditolak, dan seandainya dia bersumpah kepada Allah, Dia menerima sumpahnya.” (HR: Al-Bazzar dari Ibnu Mas’ud di shahihkan oleh Al-Bany dalam shahihul jami’ 3487)

Kedua hadits diatas menjadi peringatan kepada seluruh manusia untuk selalu berpikir bijak dalam menilai manuisa. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap, karena kita akan terjerumus pada kesimpulan yang salah. Kembali pada kisah Julaibib Radhiallahu ‘anhu, ketika khutbah jum’at yang lalu, syaikh ‘Athif juga menceritakan bahwa Rasulallah pun bersaksi untuk salah satu sahabatnya itu. Tentang Julaibib bahwa ia pun memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah, kisah ini juga diceritakan oleh Anas bin Malik, beliau menuturkan : “Ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Julaibib dengan wajahnya yang kurang tampan. Rasulullah menawarkan pernikahan untuknya. Dia berkata, “Kalau begitu aku orang yang tidak laku?” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau di sisi Allah orang yang laku.” (HR: Abu Ya’la)

Semenjak Julaibib memeluk Islam ia menjadi sosok yang sangat cinta kepada Nabi, rasa cintanya yang begitu besar ditunjukan dalam sikap dan perbuatannya, ia selalu berada di majlis ilmu Rasulallah, mengambil hikmah dan pelajaran serta petunjuknya, ia juga meneladani akhlak Rasulallah untuk bekalnya di dunia dan di akhirat kelak. Saking besarnya rasa cintanya kepada Rasulallah ia tidak pernah terlambat dalam melaksanakan perintah Rasulallah SAW.

Masuk pada masa pernikahannya, Syaikh Mahmud Al-Mashri dalam bukunya “Ash-habu Rasul” memulai kisahnya dengan menyebutkan bahwa Allah enggan menikahkan Julaibib dengan wanita dunia, tapi Allah menghadiahinya bidadari hurul ‘ain. Itulah ia Julaibib Radhiallahu ‘anhu, ketika ia sangat ingin menikah dengan seorang wanita dunia ternyata Allah berkendak lain Allah lebih memilihnya untuk mempersunting bidadari langit. Meskipun ia sempat dinikahkan oleh Rasulallah dengan seorang muslimah shalihah tapi itu tidak berlangsung lama. Syaikh ‘Athif dalam khutbahnya menceritakan: “Suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menikahinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.” “Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang.

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…” “Lalu, untuk siapa?” tanyanya. Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…” Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….”

Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melamar putrimu.” Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…” “Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang. Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.” “Lalu, untuk siapa?” tanyanya. “Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya.

Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… ! Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi.

Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?” “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” jawab keduanya. Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” “Bawa aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya. Sang bapak pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,

اَللّهُمَّ صُبَّ عَلَيْهِمَا الْخَيْرَ صَبًّا وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهُمَا كَدًّا كَدًّا

“Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”

Tidak lama setelah pernikahannya Julaibib pun ikut dalam sebuah peperangan bersama Rasulallah. Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” Beliau bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran. Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka, kemudian mereka membunuhnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,”Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya.

Sekilas tentang salah satu sahabat Rasulallah SAW, Julaibib Radhiallahu ‘anhu ketika Allah enggan menikahkannya dengan salah satu wanita penduduk bumi, tapi ternyata Allah mengaruniakan kesyahidan kepadanya, ia gugur di jalan Allah. Lalu Allah menikahkannya dengan hurul ‘ain, bidadari penduduk langit.

Kampung Permai, 04/02/013

 

 

Pertemuan Dengan Salah Seorang Warga Syiria

Gambar

Sepertinya baru kemarin membaca sebuah satatus di jejaring social dari salah seorang senior, tentang seorang Suriah (a Syirian people) yang meminta bantuan financial hampir disetiap masjid yang ada di Kairo. Alhamdulillah, shalat dzuhur tadi Allah menakdirkan ku untuk bertemu dengan salah satu di antara mereka, tepatnya di masjid Ar-rasul Hayul Asyir. Setelah shalat dzuhur sang imam masjid yang memiliki suara merdu seperti syaikh Sudais (Imam besar di masjidil haram) mengumumkan kepada jama’ah bahwa ada salah seorang warga Syiria yang sangat membutuhkan bantuan. Kontan para jama’ah yang mendengar pengumuman itu langsung menoleh kearah orang yang di maksud oleh sang imam, saya pun tidak ketinggalan memperhatikan sosok orang yang negerinya sedang dilanda perang saudara  itu. Perang untuk memperjuangkan hak mereka dari pemimpinnya yang dzalim dan tidak diterima lagi oleh rakyatnya.

Konflik Suriah telah berlangsung hampir dua tahun, geliat revolusi itu sepertinya sudah tergambar di benak rakyat Suriah yang menginginkan keadilan berdiri tegak di negerinya. Semenjak asap revolusi itu menyebar dari Tunisia, lalu merobohkan hampir semua pemimpin tiran di Timur Tengah. Hingga menewaskan salah satu diantara mereka, siapa yang tidak kenal dengan sosok Muamar Kadafi, seorang colonel yang berhasil memimpin Libya hampir setengah abad. Gaya kepemimpinanya yang kadang kontroversial menimbulkan polemic baik di dunia tengah ataupun barat. Namun nahas, singa padang pasir itu harus mengakhiri masa kepemimpinanya dengan su’ul khatimah, tewas ditangan rakyatnya sendiri melalui perlawanan bersenjata. Dan sekarang, gilirian rakyat Suriah yang mengambil pelajaran dari revolusi Libya.

Semenjak demonstrasi menentang Bashar Asad meletus pada tanggal 15 maret 2011, banyak korban berjatuhan dari rakyat sipil. Asad yang berpaham Syi’ah ‘alawiyah sepertinya ingin menjadikan Suriah seperti Iran, tidak heran jika Asad menjadikan Negara Persia itu sebagai sekutu dekatnya. Tapi rakyat Suriah bisa membaca geliat pemimpin di negerinya. 60.000 orang telah meregang nyawa menjadi korban, lalu negeri-negeri barat sudah mulai memperlihatkan interfensinya. Rusia yang kini sudah mengirimkan tentaranya sebanyak 62.000 personil ke Suriah lengkap dengan kendaraan dan peralatan tempurnya diduga melindungi Bashar Asad didalam kapal selam mereka. Semoga Allah segera memberikan kemenangan kepada para mujahidin dan rakyat Suriah yang membela negri, aqidah, iman, dan juga kehormatan mereka.

Tatapan ku kembali pada sosok orang yang berbadan besar itu, kuperhatikan banyak juga orang-orang Mesir yang memberi bantuan kepada orang yang berwajah sayu itu. Ah.. Aku baru ingat uang di saku celanaku yang tersisa tinggal 50 pon saja, tapi aku berpikir kapan lagi aku bisa berbagi dengan saudaraku di Suriah. Sekaranglah saatnya untuk menunjukan kecintaanku kepada mereka. Mungkin jumlah yang aku berikan tidak seberapa, tapi semoga dari yang tidak seberapa itu Allah ridha kepadaku sehingga di akhirat kelak Allah memberikan naungan-Nya dan menggolongkanku kedalam hamba-Nya yang menciantai saudaranya karena Allah.

Uang 50 pon itu aku belanjakan sedikit, sekedar untuk makan siang waktu itu. Lalu sisanya aku bagi dua, setengahnya ku gunakan untuk ongkos pulang ke Zagazig, dan setengahya aku berikan untuk orang yang dari tadi berdiri disamping pintu masjid sambil memperlihatkan paspor warga negaranya. Semenjak shalat dzuhur selesai aku perhatikan dia masih berdiri di sana, masih didepan pintu dan rak sandal yang sama. Urusanku di Zagazig nanti, aku hanya bisa memasrahkannya kepada Allah. Aku yakin ketika kita membantu orang lain, maka Allah pun akan memudahkan urusan kita, ketika kita mendoakan orang lain maka para malaikat pun akan mendoakan kita.

Setelah sampai di Zagazig, ternyata Allah langsung memperlihatkan kasih sayangnya. Ketika awal masuk kerja, salah satu rekan di café Pelangi memberi tahu bahwa rumah makan kami kemarin menerima pesanan catering sebanyak 170 porsi untuk minggu depan. Alhamdulillah.. Ya Rahmaan ya Rahiim, padahal aku hanya berbagi sedikit saja tapi Engkau membalasnya berlipat ganda. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kampung Permai, 22/01/013