≈☀╠[“Pelajaran Dari Pemuda Berkaki Satu”]╣☀≈

Gambar

Tepatnya ashar tadi aku melihat pemandangan yang tidak seperti biasanya. Mushala nurrusalam, kali ini kedatangan seorang jama’ah yang baru aku lihat pertama kali. Mushala kecil yang berada dibawah café Pelangi ini memang tidak pernah ramai oleh jama’ah, biasanya juga hanya kami berlima yang meramaikan mushalah itu. Syaikh Ghido seorang pemegang kunci sekaligus muadzin di mushalah kecil itu, dengan suaranya yang terputus-putus ketika mengumandangkan adzan, kadang membuat kami yang berada di café Pelangi harus menahan tawa. Syaikh Ghido memang sudah sepuh, nafasnya yang tersengal-sengal tidak bisa menarik saura panjang ketika beliau adzan. Kadang aku yang menggantikan peran beliau sebagai muadzin, walaupun tidak terlalu sering tapi itu cukup membuat syaikh Ghido tersenyum puas. Ya, senyumnya yang tulus itu memberikan kedamaian tersendiri bagiku.

Lalu apa yang terjadi ashar tadi? Mataku sedikit terbelalak ketika melihat seorang pemuda berpakaian kumuh penuh dengan tumpahan cat berwarna putih. Sambil duduk ia sedang melaksanakan shalat sunnah qabliyah. Yang membuat keadaan semakin sayu adalah ketika mataku menelisik kearah pemuda itu, ternyata pemuda itu hanya memiliki satu kaki. Setelah semua jama’ah yang ada di mushala kecil itu selesai melaksanakan shalat sunnah qabliyah aku pun berdiri mengumandangkan iqamah. Aku persilahkan bang Kasmon maju sebagai imam.

Diantara empat ma’mum jama’ah shalat ashar, aku berdiri tepat disamping pemuda itu. “Shubhanallah” lirihku dalam hati sebelum takbiratul ihram. Ternyata, walaupun hanya dengan satu kaki pemuda itu shalat seperti orang biasa, berdiri tanpa harus bersandar pada sebuah tongkat. Gerakannya pun sempurna, ketika ia ruku’ ketika ia sujud semuanya ia lakukan tanpa beban. Setelah selesai shalat aku baru tahu jika pemuda itu adalah salah satu pekerja buruh bangunan disebuah proyek besar tepat disamping flat café Pelangi. Subhanallah kembali dapat pelajaran dari seorang pemuda berkaki satu, kegigihannya untuk melaksanakan panggilan Allah, semangatnya untuk melaksanakan shalat berjama’ah tidak padam walaupun ia memiliki satu kaki, bahkan ia pun meninggalkan kesibukannya sebentar demi memenuhi panggilan Sang Penggenggam jagad raya itu. Lalu bagai mana dengan kita?

Sore itupun kembali bermakna, karena pelajaran itu ternyata bisa kita temukan di mana saja. Semoga hati kita pun di lapangkan oleh Allah untuk bisa menerima setiap peringatannya. Sesampainya di café Pelangi, aku masih memikirkan kejadian tadi. Aku teringat pada sosok sahabat Rasul yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahu ’anhu. Sosok sahabat yang satu inipun memiliki semangat dan kegigihan yang tinggi untuk selalu shalat berjama’ah bersama Rasulallah walaupun ia tidak bisa melihat. Kisahnya yang selalu tergambar dibenak ku adalah ketika Rasulallah bermuka masam kepadanya, waktu itu, Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Rasulallah meminta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-qur’an. “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepadamu!”

Namun Rasul SAW yang mulia tidak mempedulikan permintaan Abdullah bin Ummi Maktum bahkan berpaling lalu meneruskan pembicaraannya dengan para pemuka Quraisy. Waktu itu Nabi berharap semoga dengan Islamnya para pembesar Quraisy, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Atas peristiwa itu, Allah SWT menegur Nabi dengan menurunkan wahyu kepadanya “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti. (QS: ‘Abasa : 1 – 16)

Selain itu, ada lagi kisah penuh hikmah dan pelajaran dari Abdullah bin Ummi Maktum, Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda Rasulullah Saw, ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama’ah shubuh, karena tak ada yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan?”, Abdullah lantas menjawab: “Tentu baginda”, “Kalau begitu tidak ada keringanan untukmu”, tandas Rasul. Sebagai hamba Allah yang selalu istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya. Abdullah bin Ummi Maktum pun taat dan patuh atas apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadanya. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid, sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk menuju seruan Allah. Meskipun di awal ia mencoba ia harus jatuh tersungkur tersandung batu sampai wajahnya pun terluka dan berdarah. Namun ia tetap gigih dan istiqomah untuk bisa shalat subuh berjama’ah di masjid.

Sebuah hikmah yang terbersit sore tadi, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran didalamnya. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s