≈☀╠[“ Rahmat-Nya Yang Luas Terbentang ”]╣☀≈

Image

Roda waktu terus berputar mengukir sejarah melukis warna warni hidup yang akan terus dikenang sepanjang masa. Tak ada yang bisa mengelak dari keputusan-Nya, atau keluar

dari senkenario yang sudah ditulis-Nya, dan manusia dituntut untuk selalu berikhtiar, berusaha sekuat tenaga memberikan penghambaan yang terbaik sebelum ia menuntut balik haknya. Imam ‘Atoilah mengingatkan, “Janganlah kau tutut tuhanmu sebab diakhirkannya tujuanmu, tapi tuntutlah dirimu sebab tak bisa menghargai tuhanmu”. Sebenarnya apa yang sudah kita usahakan itulah yang akan kita dapatkan dan hasil dari pada usaha itu akan diperlihatkan, baik-buruk, besar-kecil, manis-pahit, semuanya akan kembali kepada usaha kita masing-masing. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) {QS, An-Najm: 39-40}. Ayat diatas, semoga membuat kita bisa lebih open mind, jangan sampai berkecil hati atau larut dalam kesedihan yang tiada arti, hingga membuat kita keluar dari batas-batas syar’I, mengingkari dan mendustakan apa yang sudah diberi, karena hasil usaha itu bisa menunjukan jati diri manusia yang sesungguhnya, imma syakuura, wa imma kafuura.Sebentar lagi periode baru akan kita jelang, Desember adalah batas akhir yang akan selalu kita temui. Ya, ini adalah bulan yang selalu berada dipenghujung tahun, dan itu berarti tahun 2012 sebentar lagi akan berlalu digantikan dengan tahun 2013 yang masih berupa harapan dan impian. Periode baru, masa baru untuk bangkit, berkaca dari masa lalu mengambil ibrah untuk dijadikan batu pijakan menuju kesuksesan yang lebih gemilang. Walaupun mungkin untuk memulainya ada banyak rintangan dan kesusahan, itu wajar! Yang pasti kita sebagai hamba Allah dianjurkan untuk selalu berusaha dan bekerja. Belajar dari sejarah mengambil hikmah dari setiap jengkalnya, jangan sampai terperosok lagi ke lubang yang sama dan salah dalam mengambil langkah. Karena dalam dunia nyata, keinginan dan harapan itu masih terangkai kuat dalam sangkar mimpi dan imajinasi, tertutup rapat dalam tabir ketidak pastian.

Tidak seperti dalam dunia fiksi, segala sesuatunya bisa kita atur dalam sekenario yang sudah kita tulis sendiri. Kebahagian dan harapan yang tercapai tanpa sebuah rintangan, kesuksesan yang datang sendiri, terasa sangat menyenangkan bila kita membaca cerpen atau novel picisan. Tapi ingat kawan! Kita hidup di dunia yang nyata segala sesuatunya sudah diatur oleh sekenario tuhan, tidak ada yang tahu hari ini, esok, lusa atau kapan kebahagiaan itu bisa kita pegang. Namun berawal dari sebuah mimpi juga, semuanya bisa kita nikmati dan bisa kita rasakan, kalau kita hari ini bekerja keras dan berusaha secara maksimal berdoa tanpa putus asa mimpi dan harapan itu pasti akan terwujud.
Mungkin hari ini kita dihadapkan dengan rahasia Allah yang tidak bisa kita fahami apa substansi yang ada didalamnya, hikmah apa yang akan kita dapatkan? Lalu bagai mana jika kita harus dihadapkan dengan kegagalan? Ya, kegagalan adalah momok yang sangat mengerikan yang karenanya manusia berkeluh kesah, lupa akan siapa yang telah menciptkan kegagalan, dan lupa dengan apa yang sudah ia usahakan sebelum kegagalan itu datang menyapa menghancurkan semua harapan dan impiannya.

Ingat kawan! Kita gagal bukan berarti itu akhir segalanya, masih banyak pintu-pintu keberhasilan yang masih tertutup karena kuncinya belum bisa kita temukan. Bukan hanya kesabaran dan kekuatan yang kita butuhkan untuk mendapatkan kunci itu, tapi realisasi kita dalam mewujudkannya itulah yang sangat penting.
Berbicara kegagalan bukan berarti kita kalah, bukankah kita sering mendengar bahwa kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan, atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda? Thomas Alfa Edison pernah berkata: “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah”.

Sebuah kalimat sugesti yang penulis kumpulkan dari sisa-sisa tetesan keringat kekalahan, berusaha untuk tetap bangkit mengajak semua sahabat untuk tetap berusaha dan tersenyum menatap mentari, menyongsong hari esok dan merubahnya agar lebih baik dari hari ini. Jangan sampai bermuram durja terikat pada sebuah dendam kesumat yang mengakar kuat dalam rongga-rongga jiwa, dan tidak berputus asa dengan rahmat Allah akibat dari kekalahan dan kegagalan yang hanya sementara. Ada sebuah taujihat dari Ibnu Qayyim Rahimahullah yang harus kita renungkan: “Tercapainya tujuan tergantung kepada kesungguhan meninggalkan ‘awaid memutuskan ‘alaiq dan merendahkan ‘alaiq”.
‘Awaid adalah bentuk kesenangan terhadap sikap yang berleha-leha, santai, bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, senang terhadap gambar-gambar yang tidak senonoh dan senang terhadap tempat-tempat yang melenakan serta membuai manusia sampai ia lupa pada tujuan utamanya. Adapun ‘awaiq adalah jenis-jenis pelanggaran yang terlihat ataupun tidak terlihat yang bisa memutuskan hubungan kita dengan Allah. Adapun ‘alaiq adalah segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah. Dari tiga perkara diatas mungkin ada salah satu diantaranya yang pernah kita lakukan, tanpa kia sadari perbuatan itu menjadi rutinitas harian kita, sehingga ketika kita tidak melakukannya, seakan ada sesuatu yang hilang dalam diri kita.

Kekalahan kemarin sudah cukup bagi kita untuk kita jadikan ‘ibrah dan cerminan bahan introfeksi diri. Kita yang berbuat, kita yang akan menyemai hasilnya. Tidak usah kita mempertanyakan apa yang sudah terjadi, tetapi ambilan pelajaran didalamnya, itulah ciri manusia yang bijak. Lading yang selama satu tahun kita garap, kita rawat, kita beri pupuk, dan kita siram setiap hari, ternyata ketika musim panen tiba tidak bisa memberikan hasil yang memuaskan, banyak buah yang masam, ranum, bahkan busuk karena terjangkit virus dan hama yang mematikan. Jangan patah semangat! Karena jalan perjuangan kita masih panjang membentang. Wallahu a’lam.

≈☀╠[“semoga bermanfaat”]╣☀≈

Ada Apa Ketika Kita Sakit??

Image

Erangan itu begitu menyayat hati.  Sejenak jika kita dengarkan dan hayati rintihan yang pilu itu, gambaran yang terbentuk dalam benak kita adalah sebuah penderitaan yang sangat mengiris. Kadang tidak sedikit diantara kita ketika didera rasa sakit, spontan dari mulutnya keluar kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan. Seharusnya kata-kata itu tidak keluar dari mulut kita, betapapun cobaan itu begitu berat kita rasakan. Coba kita tengok saudara atau sahabat kita yang sedang terbaring lemah di rumah sakit ataupun dirumah mereka sendiri. Wajah yang pucat, tubuh yang lemah, lidah yang hanya mampu mengecap satu rasa yaitu rasa pahit. Disitulah baru kita akan merasa sangat bersyukur, dan merasa bahwa kesehatan itu sangat penting untuk kita jaga.

Membaca muqodimah diatas, kita semua mungkin sudah bisa menarik kesimpulan bahwa kesehatan itu sangat berharga. Tapi ketika rasa sakit itu datang, atau Allah menguji kita dengan sebuah penyakit, selain kita harus berobat kepada seorang dokter, setelah itu yang mampu kita lakukan hanya bersabar dan selalu optimis bahwa Allah akan memberikan kita kesembuhan seperti sediakala.

Syaikh Muhammad Husain Yaqub menjelaskan dalam muqodimah salah satu kitabnya “Absyir Ya Habib Allahu Hua Thabib” ia menuliskan dalam sebuah prosa, mengajak kepada setiap kita yang sedang diuji oleh Allah dengan rasa sakit untuk tetap tersenyum dan bersabar.

“Kepada setiap tubuh yang sedang terbaring sakit, kepada setiap jiwa yang sedang disinari cahaya kegembiraan, ucapkanlah:  Alhamdulillah..

Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengujimu dengan rasa sakit kecuali untuk mensucikanmu dari setiap dosa-dosamu, atau untuk mengangkat derajatmu disisinya, atau dengan ujian itu Allah ingin melihat sampai dimana kesabaran dan ridhamu atas setiap ketentuan dan takdirnya. Dan Allah juga ingin melihat dengan rasa sakit itu apa yang akan kamu lakukan??”

Seperti indahnya perkataan beliau, tidak hanya menghibur atau sekedar memberikan kabar gembira kepada mereka yang sedang didera oleh rasa sakit. Tapi ucapan beliau mengajak kita untuk merenungi hikmah apa yang ada dibalik ujian itu? Ujian dibalik rasa sakit, atau cobaan ketika Allah memberikan sebuah penyakit dalam tubuh kita.

Dari sana kita akan merasa bahwa kesehatan akan terasa begitu penting, manakala rasa sakit yang tidak pernah diharapkan kehadirannya tiba-tiba datang menghapus setiap keceriaan disetiap sudut hidup kita. Ibarat sebuah langit yang berawan tiba-tiba harus berubah menjadi hitam karena mendung yang tak pernah diminta kedatangannya, datang dengan membawa setiap keburukannya; kilat yang menyambar, hujan deras bercampur dengan tiupan angin yang begitu kencang, sampai harus dihadapkan dengan sebuah badai ataupun topan. Tapi setelah itu pelangi akan tetap muncul disegenap cakrawala menghapus setiap air mata dan menggantinya dengan senyum yang indah.

Lalu bagaimana dengan kita? Ketika Allah menguji kita dengan sebuah penyakit yang tak pernah kita inginkan. Sabarkah kita dengan setiap nyeri yang kita rasakan? Syaikh Muhammad Husain Yaqub juga menambahkan dengan berujar “Kepada setiap mereka yang sedang  diuji, bergembiralah! Sesungguhnya Allah ada bersamamu dalam setiap detak jantungmu, dalam setiap napas yang kau hirup, dalam setiap denyut nadi yang masih kau rasakan denyutnya. Seperti yang diceritakan dalam sebuah hadits qudsi betapa Allah begitu dekat dengan kita yang sedang diuji dengan rasa sakit. Allah berkata sebagai sebuah teguran dihari kiamat  nanti “Sesungguhnya kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Seandainya kamu tahu jika kamu menjenguknya kamu akan mendapatkan-Ku berada disisinya”

Wahai engkau yang sedang terbaring lemah, bergembiralah! Karena dengan rasa sakit itu sesungguhnya Allah begitu mencintaimu. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulallah SAW “Sesungguhnya jika Allah mencintai segolongan kaum maka Allah akan menguji mereka”.

Bergembiralah! Karena ketika engkau sakit para malaikat menyambutmu dengan wajah ramah mereka, seperrti yang diberitakan oleh Rasulallah SAW. “Apa bila kalian menjenguk orang yang sedang sakit maka katakanlah perkataan yang baik, sesungguhnya para malaikat akan mengaminkan setiap apa yang kalian katakana.

Bergembiralah! Wahai kita yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Karena dalam sakit itu sesungguhnya Allah mengiginkan kebaikan dari setiap nyeri yang kita rasakan. Karena Rasulallah pun mengabarkan “Barang siapa menginginkan Allah memberikan kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya”

Bergembiralah dan tersenyumlah, karena Rasulallah SAW, telah memberikan kabar gembira tentang diampuninya dosa kita ketika kita ditimpa musibah walaupun itu hanya tertusuk duri. Seperti yang diceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisayah Radhiallahu ‘anha “ia berkata,  Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, Setiap muslim yang tertusuk duri atau lebih dari itu, maka dicatat untuknya satu derajat dan dihapuskan satu kesalahan”

Hadis riwayat Abu Said Al Khudri ra. bahwa,  Sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Seorang beriman tidak akan pernah mengalami musibah berupa kepedihan, kelelahan, sakit biasa dan kesedihan bahkan kebingungan yang dia alami, kecuali akan dihapus dosa-dosanya.

Syaikh  Muhammad Husain Yaqub juga mengatakan; “Ketahuilah wahai saudara ku, sesungguhnya cobaan itu ibarat tamu untuk kita, maka hormatilah kehadirannya, jangan kalian menyerunya untuk segera pergi, kecuali tamu itu sudah membawa rasa syukur kita dan ridha kita atas segala tadbir (aturan Allah) yang sudah ditentukan kepada kita”.

Wallahu a’lam.

Zagazig, 18/11/2012

Nb: Artikel ringan ini ditulis, setelah merasakan sakitnya terkilir ketika main futsal di lapangan sintetis Zagazig.